Catatan Akhir Tahun: Mulut Besar Melayani Rakyat

Ilustrasi.

INGIN ARTIKEL DIBACAKAN:

Melayani rakyat,” itulah ucapan yang kerap keluar dari para elite politik ketika duduk di kursi empuk kepala daerah. Ucapan ini pula masih menjadi alat untuk meraup simpati konstituen (rakyat) ketika menjelang momentum (pesta rakyat) politik praktis, seperti Pilkada (Pemilihan Umum Kepala Daerah). Rakyat tentunya akan suka dan mengidolakan pemimpin yang benar-benar melayani mereka.

Bagi elite politik yang telah duduk di kursi empuk kepala daerah, Melayani Rakyat terus dikampanyekan, kendati tolok ukurnya buram. Jajaran birokrat yang dipilih/dipercayakan oleh sang kepala daerah untuk menjabat – duduk dikursi empuk pejabat publik – terkesan lebih banyak melayani sang bos (kepala daerah) dari pada Melayani Rakyat sesuai jabatan mereka masing-masing.

Sang bos dan para pembantunya (birokrat) mungkin lupa atau melupakan, Melayani Rakyat, padahal mereka itu adalah pelayan publik. Sebab disana-sini masih dikeluhkan soal ketersediaan air bersih/air minum, fasilitas jalan yang rusak (lengkap dengan pilah-pilah jalan yang tak terurus), drainase/saluran air dan trotoar yang dituding kerap menjadi penyebab banjir/air menggenang, fasilitas kesehatan, seperti Pustu (Puskesmas Pembantu) dan Puskesmas (Pusat Kesehatan Masyarakat) yang kendati gedungnya telah ada, namun tidak dimaksimalkan penggunaannya, fasilitas pendidikan, dimana ada sekolah yang gedung dan halamannya sudah baik, namun terus direnovasi. Sementara sekolah lain tidak pernah menerima bantuan, apakah DAK (Dana Alokasi Khusus) atau sebutan lainnya untuk merenovasi gedung atau halaman, infrastruktur pertanian yang belum mendapat sentuhan serius (apalagi di kota saya, Kota Tomohon yang disebut Kota Bunga, tapi banyak fasilitasnya terbengkalai). Dan bla, bla, bla….

Melayani Rakyat, seakan hanya dilakukan jika ada anggaran. Padahal kepala daerah beserta para pembantunya (kepala dinas/badan dan lain-lain) memiliki gaji dan diberikan tunjangan kinerja yang terbilang besar. Gaji adalah hak, sementara tunjangan (besar) diberikan agar mereka bekerja dengan profesional, tulus ikhlas bagi rakyat.

BACA JUGA: Mereka Melayani Siapa?

Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (APBD) setiap tahun terus bertambah, sayangnya fasilitas-fasilitas publik seakan tidak bertambah, demikian halnya kesejahteraan rakyat. Lalu kemana uang (APBD) itu mengalir. Mereka yang katanya Melayani Rakyat mungkin berpikir yang penting mendapat opini Wajar Tanpa Pengecualian (WTP) dari BPK (Badan Pemeriksa Keuangan). Opini WTP ini kemudian dijadikan tolok ukur keberhasilan, kendati berbanding terbalik dengan penilaian rakyat.

Koar-koar pemimpin yang Melayani Rakyat dikumandangkan oleh para antek-antek sang elite (apalagi jelang Pilkada 2020). Corong-corong yang dibiayai APBD untuk mencitrakan pemimpin yang Melayani Rakyat nyaring disana-sini, apakah itu dilakukan antek sesama politisi, pendukung fanatik, kaum yang katanya kritis, tapi takut mengkritik, atau oleh antek pembantu sang bos yang diberikan jabatan karena takut kehilangan jabatan.

APBD yang seharusnya menjadi instrumen untuk Melayani Rakyat, terkesan menjadi instrumen untuk membiayai kunjungan-kunjungan (hingga keluar negeri) sang bos didampingi para pembantunya (silih berganti), atau malah para pembantu sang bos justru dengan sigap mencari celah agar mendapat keuntungan dari APBD, salah satu modusnya membuat kegiatan seremonial yang setiap tahun dilaksanakan, (seperti pelatihan, bimtek dan bla, bla, bla). Tak kreatif dan tak berinovasi untuk rakyat guna mengimplementasikan Melayani Rakyat. Malah dengan bangga mereka memposting ke media sosial foto-foto saat ‘holiday’ keluar daerah/keluar negeri.

Senyum sang bos besar dan para bos kecil (para pejabat pembantu/yang diangkat sang bos besar untuk menduduki jabatan) ‘menghipnotis’ rakyat. Banyak komponen masyarakat yang kemudian lupa dengan janji-janji politik semasa kampanye. Apakah janji politik itu telah direalisasikan sang bos besar (kepala daerah) melalui para pelaksananya (bos kecil) seakan menjadi tidak penting. Indikator-indikator keberhasilan pembangunan sebagaimana janji politik ketika kampanye, Melayani Rakyat jarang terdengar. Mereka bungkam. Padahal kritik untuk jalannya pemerintahan, pembangunan dan kemasyarakatan sangat penting dalam era keterbukaan, berdemokrasi untuk saling mencerdaskan. Bukannya kemudian publik disodorkan mulut besar sang bos besar, bos kecil dengan janji-janji program yang tidak Melayani Rakyat.

BACA JUGA: EMAS yang Tak Berkilau

Disisi lain, wakil rakyat di Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) jarang bersuara secara terbuka. Mungkin dalam pembahasan-pembahasan bersama eksekutif, mereka bersikap kritis dengan bahasa-bahasa sebagaimana mereka dapat pada waktu mengikuti bimtek/workshop ketika awal menjadi wakil rakyat. Bahasa mereka itu sering dianggap terlalu tinggi oleh rakyat bawah (kaum jelata). Keinginan rakyat hanya satu: kesejahteraan, lapangan kerja mudah, fasilitas kesehatan yang terjangkau dan lain-lain.

Mungkin kerap dipublikasikan pembahasan atau rapat paripurna yang diselenggarakan DPRD untuk menetapkan Ranperda menjadi Perda. Dibaliknya apakah rakyat tahu prosesnya, atau apakah pada pembahasan terbuka dan rapat paripurna terbuka di gedung megah DPRD kemudian terundang komponen masyarakat, yakni Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM). Semoga para wakil rakyat tidak menjadi tukang stempel dari atas eksekutif. Semoga para wakil rakyat selalu bersikap kritis melihat, mencermati dan memperjuangkan kesejahteraan rakyat, agar kampanye Melayani Rakyat benar-benar tercipta, benar-benar dilaksanakan. Bukan sekedar mulut besa dari mereka yang dipercayakan memimpin daerahku, Kota Tomohon.

Ya, kotaku Tomohon yang tahun depan (2020) akan merayakan usia 17 tahun berotonom (mekar dari Kabupaten Minahasa).

Si tou timou tumou tou’ (‘manusia baru dapat disebut manusia, jika sudah dapat memanusiakan manusia’) Dr GSSJ Sam Ratulangi

Selamat hari Natal 2019 dan menyongsong Tahun Baru 2020.

 

0 Reviews

Write a Review

Read Previous

Catatan Akhir Tahun: 2019 Sangihe Panen ‘Bobengka’

Read Next

Kapolri: Kinerja Satgas Saber Pungli Kurang Terekspos

Leave a Reply