Covid-19 Menguji Kapasitas dan Integritas Pemimpin Gereja

Gedung GPdI Taratara 3, Kecamatan Tomohon Utara, Kota Tomohon.

Gedung GPdI Taratara 3, Kecamatan Tomohon Utara, Kota Tomohon.

INGIN ARTIKEL DIBACAKAN:

ketika pandemi Covid-19 ini merebak, dan pemerintah mengeluarkan surat imbauan beribadah dirumah saja, beberapa institusi gereja mengalami kesulitan untuk mengorganisir peribadatan jemaat. Khususnya gereja dengan zonasi jemaat yang terpencar, mereka terpaksa mengandalkan ibadah online lewat live streaming facebook, instagram, live televisi dan lainnya yang jelas beda nuansa. Sementara jemaat berjumlah besar dalam satu zona seperti GMIM, tak kesulitan melaksanakan ibadah yang dipandu pemimpin Ibadah lewat pengeras suara dari gedung gereja.

TOMOHON, publikreport.com – Hampir semua sektor dan lini kehidupan masyarakat harus pasrah menerima dampak serius yang diakibatkan mewabahnya Covid-19 (Coronavirus Disease 2019) yang belum ‘mau’ meninggalkan dunia ini. Institusi keagamaan sebagai benteng yang paling diharapkan untuk menjadi penyeimbang, beberapa elemen didalamnya harus pontang-panting dan berbuat blunder.

Wartawan sempat menyaksikan pemandangan tak biasa terhadap fasilitas tempat ibadah yang diagungkan sebagai rumah Tuhan. Diantaranya ada yang sampai di telantarkan oleh pimpinan dan jemaatnya karena tidak pernah lagi digunakan untuk beribadah bersama sejak 22 Maret 2020, lalu.

Malu juga lihat gereja kami terlihat tidak terurus. Tapi kita tidak bisa berbuat apa-apa, karena tidak ada komando dari pimpinan. Pimpinan gereja kami tinggal di Kakaskasen Tomohon. Maklum juga, karena beliau masih muda,” ungkap JS, salah satu warga jemaat Gereja Pantekosta di Indonesia (GPdI) Taratara 3, Kecamatan Tomohon Barat, Kota Tomohon, Provinsi Sulawesi Utara (Sulut) saat bersua publikreport.com di depan gedung gereja yang kondisi bangunannya nampak tak terawat.

Masih dilingkup salah satu kelompok gereja besar di Sulut, sejumlah warga jemaat di Wilayah 52 Tombariri memprotes dan menolak mentah-mentah acara rapat wilayah para gembala yang oleh ketua wilayah setempat diminta dilaksanakan di gedung gereja mereka pada 05 Juli 2020, lalu.

Kami menolak jika gereja kami dijadikan tempat rapat, karena saat ini Sulut masih dalam situasi darurat Virus Corona. Kami mendukung imbauan pemerintah, makanya kami menolak acara ini dilaksanakan disini,” tegas Pendeta (Pdt) Erol Mokalu, salah satu pelayan di Jemaat Hosana.

Kebandelan’ para oknum pimpinan gereja tingkat wilayah tersebut menuai kritikan keras warga lain.

Terbukti sekarang. Selama beberapa minggu terakhir ini, banyak Jemaat GPdI di wilayah ini yang tetap beribadah bersama di gereja. Pantas, karena ketua wilayahnya tidak mau mendukung imbauan pemerintah. Harusnya Ketua Majelis Daerah mengganti Ketua Wilayah 52 Tombariri,” kata Baboy, anggota jemaat yang sama.

Bagaimana anggota jemaat patuh, Dito Pontoh melanjutkan, anehya pimpinan wilayah ajarkan jemaatnya untuk melawan imbauan pemerintah.

Ketua GPdI Wilayah Tombariri, Pendeta Frangky Umboh tidak bisa dihubungi ketika wartawan mencoba meminta klarifikasi. Disisi lain, kengototan sejumlah jemaat dalam menggelar ibadah bersama di gereja tetap mendapat pembelaan dari beberapa tokoh jemaat.

Anggota Jemaat GPdI terpencar-pencar dan tidak di satu zona seperti GMIM (Gereja Masehi Injili di Minahasa). Jadi kita tidak bisa beribadah di rumah masing-masing dengan panduan penghotbah lewat pengeras suara dari gedung gereja,” ujar Jois Tumarar.

Karena itu, tokoh jemaat bersatatus pendeta muda tersebut mengatakan, ibadah bersama di gereja harus dilakukan walaupun menerima kritikan dan cemoohan.

Biarlah, yang penting kita beribadah pada Tuhan, walau dapat kritikan. Tapi kita juga tetap memperhatikan Protokol Kesehatan,” jelasnya.

Suport dan dukungan datang dari pelayan gereja denominasi lain.

Untuk urusan ibadah di masing-masing gereja, tentunya diluarnya tidak boleh ikut campur. Kalau teman-teman kita dari GPdI tetap melakukan ibadah bersama di gedung gereja, jelas harus kita suport. Kita harus mengapresiasi kerinduan mereka untuk beribadah bersama kendati ada arahan lain disaat kita menghadapi Virus Corona,” kata Penatua (Pnt) Opik Kandouw.

Diketahui, ketika pandemi Covid-19 ini merebak, dan pemerintah mengeluarkan surat imbauan beribadah dirumah saja, beberapa institusi gereja mengalami kesulitan untuk mengorganisir peribadatan jemaat. Khususnya gereja dengan zonasi jemaat yang terpencar, mereka terpaksa mengandalkan ibadah online lewat live streaming facebook, instagram, live televisi dan lainnya yang jelas beda nuansa. Sementara jemaat berjumlah besar dalam satu zona seperti GMIM, tak kesulitan melaksanakan ibadah yang dipandu pemimpin Ibadah lewat pengeras suara dari gedung gereja. JOPPY JW

 

0 Reviews

Write a Review

Read Previous

Tanda Alam yang Dipercayai Akan Berakhirnya Covid-19

Read Next

Personil Naik Pangkat, Kapolres: Tanggung Jawab Makin Berat