Dua Anak Korban Eksploitasi Dipulangkan

INGIN ARTIKEL DIBACAKAN:

Awalnya aku diajak teman yang sedang bekerja di Medan dari Facebook untuk ikut dia bekerja juga. Karena tidak tahu, akhirnya aku pergi dan tidak bilang orang tua karena takut tidak diberi izin. Aku pikir nekat pergi bekerja saat libur sekolah karena Covid-19 bisa membantu orangtua tapi ternyata aku salah dan menyesal tidak bilang sama orang tua. Sekarang saya baru tahu, bekerja harus minta ijin dan umur harus sesuai dengan undang-undang yaitu 18 tahun. Aku sekarang mau belajar dan sekolah dulu baru nanti bekerja kalau sudah cukup umurnya”

KUPANG, publikreport.com – Dua anak berinisial YNN (17) dan YDN (17), asal Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT), korban eksploitasi ekonomi, berhasil dipulang Unit Pelaksanaan Teknis Dinas Pusat Pelayanan Terpadu Perlindungan Perempuan dan Anak (UPTD P2TP2A) Provinsi Sumatera Utara (Sumut) bersama dengan Tim Gabungan Unit PPA (Perlindungan Perempuan dan Anak) Polrestabes (Kepolisian Resort Kota Besar) Medan, dan Dinas Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (DinPPPA) Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT).

Ini merupakan hasil kerjasama dari berbagai pihak utamanya Dinas PPPA Provinsi Sumut dan Polrestabes Medan yang telah bekerja keras untuk melindungi anak dari korban dugaan eksploitasi pekerja anak. Saya memberikan apresiasi kepada mereka khususnya yang mengantar kedua anak ini pulang ke NTT dengan selamat. Semoga ini dapat menjadi contoh dan memotivasi daerah lainnya untuk berlomba-lomba melindungi anak dari segala bentuk kekerasan dan eksploitasi,” kata Menteri Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (PPPA), Bintang Puspayoga, Rabu 01 Juli 2020.

Upaya perlindungan anak dari eksploitasi ekonomi, Bintang menegaskan, harus terus dilakukan.

Saya titip kepada Dinas PPPA Provinsi NTT untuk melakukan pemantauan terhadap kasus ini hingga selesai. Selain itu, agar tidak terulang lagi kasus serupa perlu ada pendalaman dan penyelidikan kasus bekerjasama dengan pihak terkait untuk memutus mata rantai eksploitasi ekonomi di NTT,” ujarnya.

Kepala Dinas PPPA Provinsi NTT, Sylvia R Peku Djawang mengatakan, awal mula terungkapnya kasus ini dari pelaporan berita kehilangan anak dari orang tua YNN ke P2TP2A Kabupaten Timor Tengah Selatan (TTS) yang kemudian ditindaklanjuti oleh Dinas PPPA Provinsi NTT. Sebulan kemudian setelah berita kehilangan, YNN menghubungi orangtuanya dan mengabarkan bahwa ia berada di Medan untuk bekerja sebagai pembantu rumah tangga.

Saat menerima kabar ini, kami Dinas PPPA Provinsi NTT langsung berkoordinasi dan meminta bantuan Dinas PPPA Provinsi Sumut. Setelah menjalani proses yang panjang akhirnya UPTD P2TP2A Provinsi Sumut bekerjasama dengan Tim Gabungan Unit PPA Polrestabes Medan berhasil memulangkan kedua anak korban dugaan eksploitasi tenaga kerja anak,“ jelasnya.

Dalam kasus ini, Sylvia menuturkan, kedua anak tersebut kembali dalam keadaan yang baik dan sehat, akan tetapi yang menjadi fokus utama pihaknya adalah kondisi dimana usia anak tersebut masih dibawah umur dan jaringan pencari kerja yang ilegal dan bisa mengarah pada Tindak Pidana Perdagangan Orang (TPPO).

Setibanya kedua anak tersebut di Kupang, kami langsung melaksanakan serah terima dari P2TP2A Provinsi Sumut kepada kami. Kemudian dari kami kepada keluarga mereka masing-masing yang difasilitasi oleh Dinas PPPA Kabupaten TTS. Kami juga melakukan serangkaian pemeriksaan dan pendalaman kasus yang dibantu oleh pihak berwajib dan melakukan konseling atau bimbingan oleh psikolog kami. Kami berharap dengan bantuan dari pihak kepolisian yang sedang menyelidiki kasus ini dapat terungkap pihak yang mengirim anak-anak ini untuk dipekerjakan sehingga kedepannya tidak terjadi lagi kasus serupa,” tambahnya.

Sementara itu Kepala Seksi Pelayanan UPTD P2TP2A Provinsi Sumut, Widya Susanti mengatakan setelah pihaknya menerima laporan kehilangan anak dari Dinas PPPA Provinsi NTT, mereka langsung meminta bantuan Polretabes Medan untuk melakukan penjemputan anak di alamat majikannya.

Setelah kami berhasil menjemput anak tersebut, kami membawanya ke Polres (Kepolisian Sektor) untuk penyelidikan kasus lalu kami amankan di rumah aman dengan tetap menjalankan protokol kesehatan Covid-19 (Coronavirus Disease 2019). Setelah kurang lebih dua minggu kami melakukan koordinasi untuk prosedur pemulangan kedua anak tersebut, akhirnya kami berhasil memulangkan mereka dengan bantuan dari Organisasi Internasional untuk Migrasi (IOM) untuk memfasilitasi pemulangan mereka,” ujarnya.

Proses pemulangan kedua anak tersebut, Widya melanjutkan, tidak mudah karena korban menolak untuk dipulangkan.

Awalnya anak menolak untuk diajak pulang dengan alasan sudah nyaman bekerja, namun kami menyakinkan mereka hingga akhirnya mau dipulangkan ke daerah asal mereka. Selain itu, kami juga kesulitan memfasilitasi kepulangan mereka ke daerah asal. Kami berharap kedepannya akan lebih banyak lagi program dan kegiatan sosialisasi usia minimal untuk bekerja dan memberikan pemahaman kepada orangtua juga anak bahwa ketika masih usia anak mereka tidak boleh bekerja. Salah satunya bisa memanfaatkan penguatan Perlindungan Anak Terpadu Berbasis Masyarakat (PATBM) di daerah untuk melakukan advokasi dan sosialisasi terkait pekerja anak,” terangnya.

Salah satu korban, YNN menuturkan ia menyesal sudah pergi dari rumah untuk bekerja tanpa izin orangtua dan ia menjadikan ini sebagai pelajaran berharga.

Awalnya aku diajak teman yang sedang bekerja di Medan dari Facebook untuk ikut dia bekerja juga. Karena tidak tahu, akhirnya aku pergi dan tidak bilang orang tua karena takut tidak diberi izin. Aku pikir nekat pergi bekerja saat libur sekolah karena Covid-19 bisa membantu orangtua tapi ternyata aku salah dan menyesal tidak bilang sama orang tua. Sekarang saya baru tahu, bekerja harus minta ijin dan umur harus sesuai dengan undang-undang yaitu 18 tahun. Aku sekarang mau belajar dan sekolah dulu baru nanti bekerja kalau sudah cukup umurnya,” ucapnya. DORANG

 

0 Reviews

Write a Review

Read Previous

Covid-19, Masyarakat Takut ke Rumah Sakit

Read Next

SBSI dan KSPI Sulut Dukung Penerapan Pergub New Normal