Festival Meriam Karbit di Pontianak

Festival Meriam Karbit di sepanjang Sungai Kapuas, Kota Pontianak, Provinsi Kalimantan Barat (Kalbar).

Festival Meriam Karbit di sepanjang Sungai Kapuas, Kota Pontianak, Provinsi Kalimantan Barat (Kalbar).

INGIN ARTIKEL DIBACAKAN: https://publikreport.com

Bagi masyarakat maupun wisatawan yang penasaran menyulut obor ke Meriam Karbit atau dalam bahasa lokal disebut Nyucul Meriam, dapat langsung menghubungi panitia penyelenggara dan membayar biaya retribusi.

Kota Pontianak, Provinsi Kalimantan Barat (Kalbar) mempunyai tradisi unik dalam menyambut datangnya 1 Syawal dan Idul Fitri. Festival Meriam Karbit diselenggarakan disepanjang Sungai Kapuas. Dikutip dari berbagai sumber, pada awalnya Meriam Karbit hanya terbuat dari sebatang bambu, namun seiring perkembangan zaman berubah menggunakan pohon pinang, pohon kelapa, serta menggunakan gelondongan kayu yang sudah tidak terpakai. Meski menggunakan kayu yang tidak lagi digunakan, kayu meranti dan mabang merupakan kayu yang dipilih sebagai bahan utama pembuatan Meriam Karbit dengan bobot yang bisa mencapai 500 kg (kilogram).

Kayu yang telah dipilih untuk digunakan sebagai Meriam Karbit kemudian dikeruk bagian tengahnya dan diberi pelumas agar kedap air dan suara. Setelah dikeruk dan diberi pelumas, kayu kembali disatukan menggunakan rotan yang dililit dengan kuat sepanjang badan kayu. Untuk memperpanjang usia kayu dan menghilangkan rayap, kayu kemudian diredam di dalam sungai Kapuas selama beberapa malam.

Agar menarik perhatian masyarakat yang melihat, kayu yang sepanjang sekitar empat hingga tujuh meter dengan diameter mencapai 50 centimeter tersebut juga dicat warna-warni dan ada juga yang dibungkus dengan kain berbagai motif. Meriam yang siap digunakan kemudian diisi sekitar tiga hingga lima ons karbit dan kemudian dinyalakan dengan disulut oleh obor.

Tradisi Meriam Karbit sendiri telah ditetapkan sebagai Warisan Budaya Tak Benda oleh Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan RI.

Festival tahunan yang dilaksanakan pada malam sebelum tibanya hari raya Idul Fitri, atau malam takbiran ini menjadi daya tarik bagi masyarakat Kota Pontianak. Tak ayal warga pun berbondong-bondong memadati pesisir Sungai Kapuas, untuk dapat menyaksikan dan merasakan secara langsung bagaimana sensasi mendengarkan bahkan menyulut meriam raksasa dengan tangan mereka sendiri. Tidak sedikitnya biaya pembuatan serta bahan baku Meriam Karbit, membuat setiap kampung disepanjang Sungai Kapuas melakukan pengumpulan dana secara swadaya.

Kerasnya suara yang dihasilkan meriam karbit tersebut tak jarang mengundang rasa penasaran para wisatawan untuk menyaksikan dan mendengar langsung bunyi permainan tradisional ini. Bagi masyarakat maupun wisatawan yang penasaran menyulut obor ke Meriam Karbit atau dalam bahasa lokal disebut Nyucul Meriam, dapat langsung menghubungi panitia penyelenggara dan membayar biaya retribusi.

Pada awalnya, penyulutan mariam dilakukan pada satu minggu menjelang lebaran. Namun dengan adanya peraturan daerah (perda) meriam baru dapat dibunyikan pada tiga hari sebelum dan tiga hari sesudah Idul Fitri. Sekitar 250 meriam yang tersebar disepanjang Sungai Kapuas saling bersaut dentuman. Tidak mau kalah dengan suara dentuman Meriam Karbit, Kemeriahan malam Idulfitri juga dilengkapi dengan pertunjukan dari kapal tongkang yang menampilkan beragam kesenian khas Kota Pontianak.

Pada tahun 2010 lalu, tradisi Meriam Karbit Pontianak telah mendapat pengakuan dari Museum Rekor Indonesia (MURI) pada tahun 2007 sebagai parade Meriam Karbit terbanyak dan menjadi satu satunya yang ada di dunia. Kala itu terdapat 150 Meriam dengan 31 kelompok yang diikut sertakan.

Tradisi Meriam Karbit tidak lepas dari asal-usul cerita, dimana pada abad ke-18 seorang bangsawan Arab bernama Syarif Abdurrahman Alkadrie datang dan memiliki misi menyiarkan Islam. Dalam perjalanannya menyusuri Sungai Kapuas, ia menemukan daratan dipinggir sungai yang disebut masyarakat Pontianak adalah beting. Syarief Abdurrahman kemudian menembakan meriam kearah beting untuk mengetahui apa ada penghuni disana dan ternyata tidak ada seorang pun yang menjawab. Sampai pada akhirnya Syarief mendirikan sebuah masjid yang dinamanakan Masjid Jami. Selanjutnya Syarief membangun kesultanan kadriah yang menjadi cikal bakal Kota Pontianak, dan merupakan sultan pertama di Kota Pontianak.

Namun ada versi lain yang menjadi legenda. Konon Kesultanan Kadriah di Pontianak yang berdiri pada tahun 1771-1808 membunyikan meriam untuk mengusir hantu, khususnya kuntilanak yang ada di Kota Pontianak. Karena pada waktu itu, raja pertama Pontianak yang bernama Syarif Abdurrahman Alkadrie ketika membuka lahan untuk bertempat tinggal di Pontianak sempat diganggu oleh hantu-hantu. Kemudian Sultan memerintahkan pasukannya untuk mengusir hantu itu dengan meriam. Pontianak menurut cerita adalah sebuah kota yang memiliki hantu kuntilanak. Karena pada dasarnya Pontianak berasal dari kata bunting dan anak. MENPAN.go.id

0 Reviews

Write a Review

Read Previous

Pemda Diminta Segera Tetapkan Juknis PPDB

Read Next

Covid-19, Doni: 124 Kabupaten/Kota Tidak Ada Laporan Kasus Positif

Leave a Reply