Kaka Slank Gak Bisa Jauh dari Laut

Kaka Slank yang peduli laut dan hobi nyelam. (Ilustrasi: Hidayaturohman/Mongabay Indonesia)

Kaka Slank yang peduli laut dan hobi nyelam. (Ilustrasi: Hidayaturohman/Mongabay Indonesia)

Siapa yang gak kenal Kaka Slank? Pemilik nama lengkap Akhadi Wira Satriaji adalah vokalis band legendaris Indonesia, Slank. Band rock n roll yang dibentuk 26 Desember 1983 ini, sudah tak terhitung menelurkan lagu hits di belantika musik Indonesia.

Anda bukan Slankers kalau gak akrab dengan lagu Terlalu Manis, Maafkan, Mawar Merah, I Miss U But I Hate U, Virus, Seperti Para Koruptor, Pulau Biru, Pak Tani, Alami, atau Anti Nuklir.

Terbaru, Slank merilis single berjudul Pahlawan Jalanan, bentuk dukungan bagi pekerja harian yang berjuang di tengah ancaman virus corona [COVID-19].

Garang di panggung, nyatanya Kaka adalah sosok peduli lingkungan hidup. Ketertarikan Kaka pada laut, sungguh tidak terbantahkan, yang membuatnya jadi aktivis lingkungan.

“Kata aktivis sesungguhnya sedikit over buat aku, karena masih banyak teman-teman yang ‘real’ aktivis dan turun langsung ke lapangan. Hidup mereka setiap hari memang memikirkan bagaimana menyelamatkan alam. Saya sendiri lebih tepat sebagai pemerhati,” ungkap Kaka, dalam “Bincang Alam Mongabay Indonesia” Minggu, 17 Mei 2020.

Bagaimana keterlibatan Kaka pada lingkungan? Semua berawal dari Slank, sejak awal 1990. Di Slank, ada 4 unsur yang harus dipatuhi setiap kali membuat lagu baru: cinta, youth movement, alam, dan sosial. Dari album pertama Slank hingga sekarang, semua elemen itu wajib ada.

Namun, secara intens Kaka terlibat pada kegiatan lingkungan sekitar 2012. “ Tahun 2010, aku sertifikasi nyelam di Pulau Seribu. Nah dua tahun berselang baru ketemu komunitas dan mereka yang emang bergiat di alam. Bisa dibilang, pemicunya diving itu,” ujarnya.

Kenapa pilih nyelam? Menurut Kaka, sebelum tahu perihal diving, sedari awal dia memang suka ikan. Semua akun sosial medianya berbau nama ikan.

Dari hobi nyelam ini, kecintaannya pada laut berlanjut. Pada 2012, kunjungan kedua kalinya ke Sulawesi Utara, Kaka diving di Pulau Bangka, Minahasa Utara. Sejak nyelam di pulau ini, Kaka ketagihan untuk kembali.

“Pulau Bangka bagus banget. Di sini ada koral warna pink yang mekar saat arus kencang. Airnya juga jernih sekali. Namun begitu, tanpa maksud membandingkan, sesungguhnya dari ujung barat hingga ujung timur Indonesia, ada ciri khas tersendiri lautnya,” jelas Kaka yang memakai kaos biru bertulis Suara Pulau.

Mau ditambang

Namun, saat tahu Pulau Bangka akan ditambang oleh perusahaan, Kaka gusar. Andai pertambangan terjadi, tahun 2012 itu, separuh Pulau Bangka pastinya hilang. Kerusakan lingkungan akan terjadi. “Pulau indah kesukaan gue bakal hilang. Ini tidak boleh terjadi,” lanjutnya.

Sebagai bentuk aksi, Kaka bareng rekan fotografer underwater bikin video kampanye penyelamatan Pulau Bangka, meliputi laut dan dua desa besar di sana. Video ini yang dimasukkan dalam petisi berlabel “Tolak Tambang di Pulau Bangka – Sulut” di Change.org, pada 2013. Sebanyak 29.478 orang membubuhkan tanda tangan.

Sebagai informasi, selama lima tahun, masyarakat Pulau Bangka, Sulawesi Utara berjuang melawan perusahaan tambang bijih besi raksasa yang telah mengeruk kekayaan alam mereka. Pertarungan membuahkan hasil. Menteri ESDM, Ignasius Jonan, saat itu, mencabut izin usaha PT. Mikgro Metal Perdana [MMP] pada 31 Maret 2017.

Meski perusahaan angkat kaki, akan tetapi perjuangan masyarakat Bangka belum usai. Kerusakan lingkungan akibat aktivitas tambang meninggalkan persoalan besar, alam hancur.

Kondisi Pulau Bangka sebagai tujuan wisata favorit di Minahasa Utara harus dikembalikan. Keindahan terumbu karang beserta jenisnya sebagai rumah biota laut seperti pygmy seahorse alias kuda laut kerdil, mandarin fish atau ikan mandarin, serta dugong, harus dipulihkan.

“Awalnya saya sempat pesimis karena gak banyak yang tahu Pulau Bangka ini, kebanyakan menyangka di Sumatera. Sungguh senang, ketika perjuangan ini berhasil. Pulau Bangka tidak perlu tambang, alamnya yang indah sungguh bisa diandalkan untuk wisata. Ini edukasi pentingnya,” paparnya.

Gerakan Pandu Laut

Kaka juga aktif dalam gerakan Pandu Laut Nusantara bersama mantan Menteri Kelautan dan Perikanan Susi Pudjiastuti. Menurut dia, program tersebut bermula dari keinginannya juga bertemu Bu Susi.

Pada 2018, Kaka bersama rekan, punya kampanye ‘I Love Hiu’. Nah hasil penjualan topi ‘I Love Hiu’ ini sebagian didonasikan ke organisasi penyelamatan hiu di Bali.

Pada masa itu juga, Bu Susi gencar kampanye penyelamatan laut. Ada niat kuat Kaka untuk memberikan topi langsung sebagai bentuk perhatian konservasi. “Bu Susi harus punya topi ini. Kampanye akan lebih nendang bila beliau ikut,” terang Kaka.

Gayung bersambut. Tidak hanya bertemu, Kaka bahkan ke rumah Bu Susi di Pangandaran, Jawa Barat. Dari sini, ide bikin Pandu Laut Nusantara muncul. Tujuannya mulia, mengedukasi masyarakat luar, para traveler dan influencer untuk peduli laut.

“Ingat, Indonesia itu lebih luas lautnya ketimbang daratan,” ujarnya.

Kegiatan pertama Pandu Laut pada 2018 adalah mengumpulkan sampah di 73 titik di seluruh Indonesia, Minggu [19/8/2018], sekaligus memperingati HUT RI ke-73.

“Intinya, menghadap laut saat hari Kemerdekaan Indonesia. Aku saat itu di Pantai Losari, Makassar, Sulawesi Selatan. Total, 8,81 ton sampah diangkut. Kegiatan ini diakhiri makan ikan bareng, sebagaimana kampanye Bu Susi,” ujarnya.

Mengenai Bu Susi yang tidak jadi Menteri lagi, Kaka berpendapat itu semua hak prerogatif Presiden Indonesia. “Aku gak ngikutin juga, kenapa Presiden harus ganti Menteri ini dan sebagainya.”

Secara pribadi, Kaka respek dengan Bu Susi yang banyak merevolusi peraturan, yang selama ini banyak “merugikan” laut kita. Selama ini, kita begitu lembek dengan regulasi yang ada, akibatnya laut menderita karena dikeruk hasilnya secara berlebihan.

“Indonesia itu benteng terakhir perikanan dunia yang masih sehat. Terumbu karang yang bagus itu banyak di Indonesia. Kalau orang luar dibiarkan masuk, ngambilin ikan pakai tongkang dan jaring besar sesuka-sukanya, habis kita. Kita rugi besar,” urainya.

Pandemi corona

Terhadap pandemi corona yang melanda Bumi, Kaka berharap, manusia lebih baik lagi bersikap pada alam. Alam pasti memperbaiki dirinya: karang tumbuh, ikan berkembang, air makin jernih, udara lebih segar, dan lainnya.

“Bila wabah berlalu, alam persilakan kita untuk mengunjunginya,” ujar Kaka yang semangat menyanyikan lagu Virus.

Aku gak mau menjadi setan yang menakutimu

Aku gak mau menjadi Iblis yang menyesatkanmu

Yang aku mau kau mencoba

Tuk mengenal aku

Yang aku mau kau belajar

Tuk mencintai aku

Tulus dan apa adanya

Tapi, kita juga harus memperbaiki diri, menambah knowledge agar lebih bijak bersikap pada alam. Kebiasaan buruk seperti nyampah di tempat wisata atau saat snorkeling menginjak karang harus dibuang jauh.

Kita harus berkaca pada sejarah umat manusia sebelumnya yang merusak alam. Akhirnya, alam marah lewat wabah, virus, bencana alam, dan sebagainya.

“Kondisi yang terjadi sekarang, corona, adalah cara alam bicara pada kita. Gue [alam] benci lo karena lo [manusia] ngerusak gue. Kita harus introspeksi diri,” tutur Kaka.

Akankah Slank menularkan “virus” peduli lingkungan ke musisi lain? Kita tunggu gebrakannya.

 

MONGABAY.co.id

0 Reviews

Write a Review

Read Previous

Hama Serang Tanaman Kelapa di Minut

Read Next

Aturan BLT Dana Desa Direvisi

Leave a Reply