Ketimpangan Ekonomi Masih Warnai Sektor Pangan

Areal persawahan di Perkebunan Karimenga Kelurahan Lahendong, Kecamatan Tomohon Selatan, Kota Tomohon, Provinsi Sulawesi Utara (Sulut). Areal persawahan ini mulai beralih fungsi menjadi kawasan permukiman penduduk. (Foto: Donny Turang/publikreport.com)

“Kenyataan bahwa ketimpangan ekonomi masih mewarnai sektor pertanian, peternakan dan perikanan, baik menyangkut lahan, kesempatan pembiayaan dan pasar serta kemampuan dan keterampilan SDM”

Rosan Roeslani, Ketua Umum Kadin Indonesia

JAKARTA, publikreport.com – Kamar Dagang dan Industri (Kadin) mengingatkan ketimpangan kondisi perekonomian masih mewarnai sektor pangan nusantara sehingga perlu adanya solusi untuk meningkatkan perekonomian yang lebih berkeadilan.

“Kenyataan bahwa ketimpangan ekonomi masih mewarnai sektor pertanian, peternakan dan perikanan, baik menyangkut lahan, kesempatan pembiayaan dan pasar serta kemampuan dan keterampilan SDM,” kata Ketua Umum Kadin Indonesia, Rosan Roeslani, pada Konferensi Tingkat Tinggi (KTT) ke-4 Keamanan Pangan Jakarta, di Jakarta, Kamis 08 Maret 2018.

“Dalam hubungan ini Kadin melihat perlu terus dikembangkan kebijakan dan kemitraan yang berpihak kepada sektor pertanian, peternakan dan perikanan,” paparnya.

Dengan demikian, ia menyatakan bahwa hal itu akan dapat menciptakan swasembada dan ketahanan pangan dan sekaligus meningkatkan kesejahteraan petani, peternak dan nelayan, yang pada gilirannya akan menciptakan perekonomian yang lebih berkeadilan.

Sebagaimana diwartakan, anggota Fraksi Partai Keadilan Sejahtera DPR, Ahmad Auly, mengingatkan agar kebijakan pemerintah dapat fokus mengatasi ketimpangan sebagai upaya untuk menghindarkan disintegrasi bangsa.

“Pemerintah harus mengambil langkah konkret dengan mengeluarkan kebijakan yang benar-benar pro rakyat kecil,” kata Auly.

Menurut Junaidi, jika ketimpangan terus dibiarkan, maka ke depannya akan berdampak buruk terhadap integrasi bangsa karena ketimpangan tersebut tak mencerminkan nilai pancasila yaitu keadilan sosial bagi seluruh rakyat.

Ia mengingatkan sejumlah kajian menunjukkan, sekitar 64 persen dari total Rp5.279 triliun simpanan yang ada di perbankan nasional dikuasai oleh 0,2 persen orang terkaya di negeri ini.

Selain itu, ujar dia, data lain menunjukkan pertumbuhan 40 orang terkaya di Indonesia empat kali lebih cepat dari pertumbuhan ekonomi nasional selama periode 2006-2016.

 

ANTARANEWS.com

0 Reviews

Write a Review

Read Previous

Aturan Penggunaan Jalan untuk Pesta Pernikahan dan Kepentingan Pribadi Lainnya

Read Next

Apakah Cloud Aman?

Leave a Reply