Kombangen dan Siow Kurur

Ilustrasi sebuah buku yang mengisahkan tentang cerita-cerita rakyat atau legenda/hikayat dalam suatu komunitas masyarakat.

Ilustrasi sebuah buku yang mengisahkan tentang cerita-cerita rakyat atau legenda/hikayat dalam suatu komunitas masyarakat.

LEGENDA

INGIN ARTIKEL DIBACAKAN: https://publikreport.com

Konon tempo dulu, ketika jaman para Opo (dewa) dan tokoh mitos, puncak Gunung Tatawiren di perbatasan Tomohon, Tombariri dan Pineleng masih lebih tinggi dari Gunung Lokon di sebelahnya. Malahan, ujung Tatawiren menyentuh kasendukan (dunia di atas, kayangan), tempat dimana para Opo bermukim. Tatawiren menjadi tangga penghubung dunia kayangan dengan dunia bawah, yakni bumi, yang dihuni manusia.

Alkisah, di jaman inilah hidup seorang lelaki berbadan raksasa, bernama Sero. Hidupnya sehari-hari hanya makan lalu tidur mendengkur. Akibatnya, tubuhnya tumbuh besar dan tambun dari hari ke hari. Orang-orang kemudian menggelarinya Kombangen, karena rakus dan pemakan banyak.

Ketika tumbuh besar, sekali makan, ia mampu menghabiskan satu belanga nasi besar, sehingga menghabiskan semua jatah makanan ayah-ibunya. Tak heran, dari menyayangi, perasaan orang tuanya berubah menjadi tidak suka. Malah, belakangan seiring waktu berputar, mereka mulai memikirkan berbagai siasat untuk mengusir, dan tragisnya lalu berencana membunuh Kombangen.

Suatu hari, Kombangen diajak ayahnya bekerja di kebun yang jauh dari rumah mereka. Dasarnya Kombangen kuat, namun cepat lapar. Ketika makan, ia menyantap habis bekal yang dibawa, lalu tidur di sebuah lobang besar.

Sang ayah terkejut melihat makanannya tidak bersisa. Ia naik pitam, dan bertekad membunuh Kombangen. Batu besar di atas lobang tempat Kombangen tidur, didorongnya dengan susah-payah, sehingga menutupi liang. Pikirnya, Kombangen tentu mati kehabisan napas, atau mati karena kelaparan terperangkap di dalamnya.

Nyatanya, belum beberapa jenak sang ayah tiba di rumah, Kombangen sudah berkoar-koar memanggil ayah-ibunya. ‘’Aku membawa batu besar untuk tungku masak. Sekarang aku lapar sekali,’’ teriaknya. Batu itulah yang dipakai ayahnya untuk mengurungnya di lobang kebun.

Dari rasa kaget, ayah dan ibunya berikhtiar lain. Kombangen diketahui cuma badannya raksasa, tapi, otaknya tumpul. ‘’Kombangen, larilah, karena Gunung Lokon akan meletus. Nanti, kami menyusul,’’ seru ayah-ibunya mengakali.

Maka, tanpa pikir panjang lagi, Kombangen lari serabutan ke dalam hutan. Sekejab saja ia melewati bagian lain hutan yang tidak dikenalinya, dan masih terus berlari. Maka, ketika malam hari tiba, ia tidak mengetahui lagi keberadaannya di mana. Tersesat tanpa tujuan, perangai Kombangen menjadi liar tidak terkendali. Dari waktu ke waktu, bulan berganti bulan dan tahun berganti tahun, ia mengembara kesana-kemari, menjelajahi hutan-hutan Minahasa.

Kombangen makan apa saja yang ditemuinya, tanpa pandang bulu. Akibatnya, keseimbangan Minahasa terganggu. Binatang buruan menipis, karena jadi santapannya sehari-hari. Yang marah adalah para Opo. Setelah berunding, mereka sepakat mengirim opo jangkung bernama Siow Kurur (sembilan lutut), untuk menghentikan Kombangen.

Bayangkan saja, manusia saat itu sudah tinggi raksasa, tapi Siow Kurur masih jauh melampaui tinggi mereka. Malahan, tingginya menjangkau dua-sampai tiga kali orang biasa, karena ia bertungkai kaki panjang.

Kebetulan di kaki Gunung Tatawiren mereka bertemu. Disuruh berhenti merusak hutan dengan penghuni seisinya, Kombangen naik pitam. ‘’ Biar tubuhmu tinggi jauh melewatiku, tapi engkau kurus kering. Saya bisa meremukkanmu,’’ seru Kombangen.

Ia mengajak Siow Kurur adu ketangkasan. Tentu tantangannya dilayani, dengan syarat kalau Kombangen kalah, ia akan menjadi manusia baik. Ternyata, keduanya berimbang. Adu alat perang, keduanya seimbang. Dalam adu lari Siow Kurur menang, namun saat adu angkat berat, Kombangen balas mengalahkannya.

Tidak ada yang menang dan kalah, keduanya duduk kelelahan. Tapi, sekejab kemudian, akal Siow Kurur timbul. ‘’Bagaimana kalau kita potong Tatawiren, lalu kita buang ke laut. Kita uji siapa terkuat. Kau pikul di darat, aku di laut,’’ usulnya.

Tantangan tersebut diterima Kombangen. Karena sakti, tak berselang lama, puncak Gunung Tatawiren sudah terpangkas. Untuk pertama, Kombangen yang memikul, dan sebagai wasit Siow Kurur ikut duduk di bagian puncak mengawasi kalau-kalau Kombangen main ruci.

Kombangen memang kuat, namun cepat lelah. Belum setengah perjalanan ke pantai (Mokupa sekarang) di barat-laut, ia sudah kelelahan. Tanpa dilihat Siow Kurur, ia menembik sekepal-sekepal bebannya, lalu dilemparnya sepanjang perjalanan.

Demikian halnya dengan Siow Kurur. Ketika gilirannya memikul dari pantai, ia mampu mencapai batas di tengah laut dengan hanya sembilan kali melangkah. Tapi, ia tidak sekuat Kombangen, sehingga diam-diam bermain curang. Ia pun mengambil sekepal-sekepal bagian tanah puncak Tatawiren yang dipikul, kemudian dilemparkan berhamburan di laut, tanpa ketahuan Kombangen.

Konon, sejak saat itu perhubungan langsung manusia di bumi dengan para Opo di kayangan terputus. Kemudian, bagian tanah yang dibuang Kombangen berubah menjadi berbagai bukit yang oleh penduduk dinamai Winerenan im Bengkow (lurus tapi bengkok), barisan perbukitan di kawasan Kecamatan Tombariri Kabupaten Minahasa. Kalau dilihat dari ketinggian Gunung Tatawiren, bukit-bukit tersebut kelihatan lurus meski sebenarnya tidak lurus. Nama-nama bukitnya antara lain adalah: Wawona, Waleneko’ko, Tepa dan lain sebagainya.

Sedangkan tanah lemparan Siow Kurur di laut berubah menjadi pulau-pulau: Bunaken, Siladen, Mantehage, Bangka dan pulau lainnya di kawasan perairan Likupang. Puncak Gunung Tatawiren hasil kutungan mereka berubah menjadi pulau Manado Tua yang berbentuk kerucut.

Kombangen sendiri akhirnya berubah tabiat menjadi baik, dan bersahabat dengan Siow Kurur.

*Cerita rakyat ini telah berkali dipublikasi di berbagai media sejak tahun 1980-an, merupakan versi Tombariri, dari Lemoh, Lolah, Tara-Tara dan Woloan. Siow Kurur disebut oleh Dr.J.F.G.Riedel sebagai anak Toar-Limumuut, masuk golongan Makateluh-pituh. Meski disebut Riedel sebagai opo tidak penting dan sekadar anak buah Rumojaporong, tapi, mitologi berkaitan Siow Kurur di Tombulu aneka kisah. Ia dikait-kaitkan dengan peristiwa angin puting-beliung dan rumput wariri, saat tercetusnya nama Tombariri dan Mariri di Poigar Bolmong. Ada kisah pula, ia diterbangkan ke Siau dan menjadi nenek-moyang penduduk Siau. Ada kisah lain, ia menjadi bisu, lalu pula ia menjelma menjadi burung malam, malah sebagai hantu Pok-Pok (pontianak). Banyak kalangan mempercayai kubur Siow Kurur berada di lokasi bernama Kentur Kelurahan Pinaras Kecamatan Tomohon Selatan. Namun, versi lain waruganya di perkebunan Rano in Tenga Pisok Desa Kauneran Kecamatan Sonder Minahasa, yang dari penghitungan sejarawan H.M.Taulu, kuburannya sepanjang 6,06 meter. Pembahasan panjang-lebar tentang Kombangen (dan juga Siow Kurur) diulas J.Alb.T.Schwarz dan N.Adriani dalam ‘Het verhaal van den Gulzigaard in het Tontemboansch, Sangireesch en Bare’e’, Verhandelingen van het Bataviaasch Genootschap van Kunsten en Wetenschap, Deel LVI, 1906 (Internet Archief), | Adrianus Kojongian, buku ‘Tomohon Kotaku’, 2006/ADRIANUSKOJONGIAN.blogspot.com.

0 Reviews

Write a Review

Read Previous

Sebagian Tempat-tempat Wisata di Sulut

Read Next

Menggoreng Ikan agar Tidak Meletus