Breaking News :

Mengenal COVID-19 dan Pencegahannya

Oleh: Ilsa Nelwan*

WHO China Country Office pada akhir Desember 2109, melaporkan kasus yang tak diketahui etiologinya di Kota Wuhan industrial Web di Provinsi Hubei,Tiongkok. Kemudian virus ini disebut SARS-CoV2, dengan penyakit yang ditimbulkan bernama Coronavirus Disease 2019 (COVID-19).

Penyakit ini menyebar dengan cepat hingga pada 4 Juni 2020, menjangkiti lebih 65 juta orang di 213 negara dengan kematian lebih 388.000 orang.

Sejak Maret 2020, WHO menyatakan pandemi, penyakit ini bukan hanya menimbulkan penderitaan karena sakit dan kematian pada begitu banyak orang, juga memengaruhi kesehatan jiwa.

Ketakutan, kekawatiran merupakan respon normal pada ancaman atau perasaan terancam juga bila kita dihadapkan pada ketidakpastian maupun ketidakjelasan.

Upaya Indonesia memutus rantai penularan antara lain dengan pembatasan sosial berskala besar (PSBB) dengan anjuran bagi masyarakat sering cuci tangan, jaga jarak, pakai masker, tidak berkerumun dan tak mudik belum sepenuhnya berhasil. Sebagian karena kurang pemahaman tentang COVID-19 ini.

Naskah ini untuk memberi informasi dasar tentang virus SARS-CoV2, mengenali coronavirus, apa virus penyebab wabah ini, asal, penularan, pemeriksaan, dan strategi dalam pandemi di Indonesia.

Pengetahuan dasar seluk-beluk virus SARS-CoV2 itu akan meningkatkan kewaspadaan penyebaran COVID-19 dengan usaha bersama yang berbeda-beda sesuai posisi, potensi dan kemampuan masing-masing.

Virus, coronavirus

Dunia ilmiah dalam 100 tahun terakhir memiliki pandangan tentang virus yang terus berubah. Awalnya, virus dianggap racun sebagaimana terjemahan dalam bahasa Latin, Italia, dan Sanskrit.

Saat ini, virus itu berada di daerah abu abu antara benda dan mahluk hidup. Virus tidak bisa memperbanyak diri, tetapi bisa memasuki sel tuan rumahnya untuk memperbanyak diri dan menulari mahluk hidup. Jadi, virus “meminjam” kehidupan. Saat ini, para ilmuan mulai menghargai virus sebagai pemain dasar pada sejarah kehidupan.

Virus adalah parasit atau benalu yang jauh lebih kecil dari bakteri. Bayangkan, virus Polio dengan penampang 30 nanometer, 10.000 kali lebih kecil dari sebutir garam.

Pada akhir abad ke 19, sudah umum diketahui, bahwa jasad renik mengakibatkan penyakit, namun para peneliti mencari jawaban terhadap penyakit yang menjangkiti tembakau, tobacco mosaic disease yang tidak bisa ditemukan penyebabnya. Potret pertama tobacco mosaic virus yang jelas baru ada pada 1941 setelah penemuan mikroskop electron dengan pembesaran yang demikian kuat bisa memperlihatkan patogen dengan bentuk kurus seperti batang.

Pada 1955, Rosalind Franklin bisa menghasilkan potret X Ray dari tobacco mosaic virus yang paling jelas. Hal ini merupakan titik balik dalam pemahaman ilmiah tentang virus, karena bukti visual ini meyakinkan eksistensinya.

Gambaran ini memperlihatkan, virus memiliki struktur sederhana terbuat dari materi genetik yang dibungkus oleh suatu molekul protein, jauh berbeda dari bakteri.

Rintisan dari Mayer, Ivanovsky dan Bijernick ini berhasil membuka pintu satu abad penelitian tentang virus yang membuka pengetahuan tentang berbagai virus serta caranya untuk tetap hidup.

Tentang dari mana virus berasal, para peneliti berpendapat, virus hadir lebih dulu, dan molekul yang memperbanyak diri lebih dulu adalah Ribonucleic Acid (RNA). Jadi teorinya, molekul RNA sudah ada sebelum sel yang pertama dibentuk, lalu mengembangkan kemampuan untuk menginfeksi sel sel pertama. Hingga, salah satu penjelasan adalah virus RNA yang satu untai adalah turunan molekul RNA pra seluler, karena itu virus disebut perintis kehidupan.

Tuan rumah virus dan penularan

Coronavirus berukuran sangat kecil (diameter 65-125 nanometer) memiliki materi inti satu untaian RNA ukuran panjang 26-32kbs. Virus SARS CoV-2 termasuk coronavirus dari subfamily Orthocoronaviridae family Coronaviridae, Ordo Nidovirales, dan bisa menginfeksi burung maupun mamalia termasuk manusia.

Virus ini zoonosis ditularkan dari hewan ke manusia. Tuan rumah pertama adalah kelelawar. Para peneliti kemudian menemukan bahwa sampel dari musang yang memperlihatkan hasil deteksi RNA positif, hingga diduga musang adalah tuan rumah kedua.

Coronavirus MERS, juga berkaitan dengan beta coronavirus dan unta jadi sumber zoonotik atau tuan rumah. Lebih jauh lagi analisa rekombinan mengungkapkan, pengikat reseptor berbentuk paku berkembang dari suatu SARS-CoV dan suatu beta CoV yang belum diketahui, mungkin dari trenggiling.

Genom adalah keseluruhan informasi genetik yang dimiliki organisme. Telah diketahui lebih 80% genom dari SARSCoV2 identik dengan coronavirus yang lalu (SARS-like bat CoV). Menurut pohon evolusi, SARS2 berada dekat dengan kelompok coronavirus SARS CoV.

Siklus hidup SARS CoV2 dalam sel tuan rumahnya mulai dengan protein S mengikat pada reseptor cellular ACE2. Setelah mengikat reseptor , protein S melakukan fasilitasi fusi dari amplop virus dengan sel membran melalui jalan endosom . SARS -COV2 melepaskan RNA ke sel tuan rumah. Lalu, Genome RNA diterjemahkan pada viral replicase polyprotein dan mengalirkan produk kecil dengan viral proteinase. Polymerase kemudian memproduksi suatu seri dari mRNA sub genomik dengan menghentikan transkripsi dan akhirnya menerjemahkan menjadi protein virus yang relevan.

Selanjutnya, protein virus dan genom RNA digabungkan pada virion dalam ER dan Golgi lalu dikirim melalui vesikula dan dilepaskan keluar dari sel. ACE2, angiotensin-converting enzyme 2; ER, endoplasmic reticulum; ERGIC, ER–Golgi intermediate compartment. Mutasi N501T pada protein SARS-CoV2 mungkin meningkatkan secara bermakna kemampuan mengikat untuk ACE2.

Cara penularan dan pencegahan

Penularan dari orang ke orang melalui saluran pernapasan dan melalui kontak langsung dengan penderita. Penularan terjadi melalui “droplet” atau cairan yang keluar dari mulut atau hidung, selanjutnya menginfeksi paru-paru melalui pernapasan hidung atau mulut.

Infeksi droplet terjadi bila orang berada kurang dari satu meter dengan penderita COVID-19 hingga berisiko tertular melalui jalan napas, selaput lendir mata, terpapar pada droplet infektif. Penularan bisa terjadi langsung dengan kontak atau tidak langsung melalui pakaian, alat alat yang digunakan penderita maupun yang tenaga kesehatan seperti stetoskop.

Virus tidak mengenal batas negara. Di satu negara bisa ada wilayah tanpa kasus dan penyebaran komunitas, jadi bisa ada beberapa strategi testing sesuai keadaan penularan di masyarakat.

Bagi wilayah yang belum ada penularan, tujuan pemantauan untuk secepatnya menemukan kasus dan segera melakukan langkah pencegahan penularan lebih lanjut. Prioritas utama, untuk penularan di komunitas dan wilayah yang tak memiliki kemampuan testing.

Strategi testing jadi bagian dari strategi kewaspadaan dan respons untuk menurunkan kurva penderita COVID-19 melalui perencanaan dinamis dan proaktif, berbasis fakta. Juga, meningkatkan kemampuan testing dan melibatkan swasta dengan bertindak cepat mengaitkan strategi testing dengan jaga jarak, upaya riset dan kebijakan lain.

Yang paling handal untuk memeriksa adalah yang disebut test PCR. Pada pasien dengan infeksi COVID-19, bahan-bahan genetik dari SARS-CoV2 bisa ditemukan di saluran pernapasan atas dan bawah.

Pada infeksi saluran pernapasan akut (ISPA) pemeriksaan molekuler rutin untuk mendeteksi adanya bahan-bahan genetis di suatu sampel. Teknik khusus ini disebut reverse transcription polymerase chain reaction atau RT-PCR, bahan-bahan genetis ini di-copy dan dibandingkan dengan urutan genetis virus yang diperiksa.

Sedangkan yang paling luas dipakai adalah test cepat antibodi. Antibodi akan dihasilkan beberapa hari atau minggu setelah infeksi virus. Kekuatan respons menghasilkan antibodi dipengaruhi beberapa faktor, seperti, usia, status gizi, tingkat keparahan penyakit dan pengobatan atau infeksi tertentu seperti HIV.

Prinsip dasar testing laboratoris untuk pasien yang memenuhi syarat diduga kasus COVID-19 adalah keputusan untuk tes harus berdasarkan faktor-faktor klinis dan epidemiologis terkait penilaian kemungkinan infeksi.

Strategi pengobatan mengatasi virus SARS-CoV2 dengan pemberian interferon, antibiotik broadspectrum, dan obat antivirus, namun hanya remdesivir yang memperlihatkan dampak menjanjikan.

Belakangan di Shanghai, dokter mengisolasi plasma darah dari orang yang sembuh COVID-19, menyuntikkan pada penderita dan memperlihatkan hasil penyembuhan cepat.

Strategi pencegahan SARS-COV-2 yang handal adalah pemberian vaksin secara massal. Sayangnya, belum tersedia vaksin untuk mengatasi COVID-19. Protein rekombinan (yang dipotong dan disambungkan dari dua organisme berbeda) bisa memproduksi antibodi yang menetralkan virus mengatasi SARS-CoV. Potongan DNA menginaktivasi virus utuh atau atau vektor hidup strain SARS-CoV, menurunkan infeksi virus pada hewan percobaan.

Saat ini, ada sekitar 90 calon vaksin dalam berbagai tahap pengembangan untuk COVID-19, walaupun hanya akan ada beberapa yang bisa lolos.

Upaya pencegahan perorangan agar tidak tertular COVID-19 dilakukan dengan tinggal di rumah sebagai upaya memutuskan rantai penularan virus dari orang ke orang. Kalau perlu keluar rumah, pakai masker, jaga jarak lebih satu meter, hindari kerumunan. Begitu tiba di rumah semua didesinfektan, mandi, cuci rambut, ganti baju dengan baju bersih.

Bagi masyarakat awam aturan untuk tinggal di rumah saja adalah suatu bencana rumah tangga. Begitu banyak orang kehilangan pekerjaan, begitu banyak tugas jatuh di pundak perempuan, dengan berkurangnya pendapatan, harus membantu anak anak belajar online di rumah, di samping pekerjaan rumah tangga lain.

Kerjasama internasional

Rob Wallace dalam bukunya , Big Farms Make Big Flu yang terbit 2016, mengungkapkan, kemunculan virus-virus patogen seperti H5N1 dan SARS adalah akibat agribisnis global dengan rekayasa genetika membuat “pabrik ternak” untuk memproduksi ayam dan ternak lain dalam waktu singkat. Jutaan ternak dengan gen persis sama diproduksi perusahaan multinasional raksasa, disembelih, kemas dan kirim ke berbagai negara.

Dalam proses itu, terjadi mutasi genetis dari virus jadi patogen dan menimbulkan wabah. Dinyatakan bahwa, ekonomi bersama dengan ilmu pengetahuan seharusnya mendukung komunitas untuk hidup sejahtera dengan dasar ilmiah agro biologi, menjaga keseimbangan dengan alam dengan keaneka ragaman hayati hingga tidak terjadi virus patogen penyebab wabah.

Praktik-praktik pembukaan hutan, perkebunan monokultur dan rekayasa genetika meningkatkan kerawanan global untuk munculnya pandemi.

Saat ini, ramalan Rob Wallace itu terjadi. Seharusnya, pandemi ini jadi pelajaran dan mengubah cara pandang mendorong kemandirian masyarakat serta kerjasama internasional ke arah lebih sehat.

Kerangka kerjasama internasional dalam kaitan dengan wabah adalah International Health Regulation (IHR) 2005, merupakan kesepakatan 196 negara termasuk semua negara anggota World Health Organization (WHO) untuk bekerja sama meningkatkan ketahanan kesehatan global (global health security).

Melalui IHR Negara-negara sepakat membangun kapasitas untuk deteksi, assessment, dan melaporkan kejadian kesehatan masyarakat termasuk penyakit menular: penyakit menular yang sudah ada, baru dan yang muncul kembali . Juga penyakit tidak menular (bahan radio nuklir, bahan kimia), yang dapat meyebabkan PHEIC/KMD.

Public health emergency of international concern atau darurat kesehatan masyarakat yang meresahkan dunia dengan kemungkinan membutuhkan koordinasi internasional dalam penaggulangannya.

Pada 2017, Indonesia sudah mengikuti Joint Externail Evaluation (JEE) untuk evaluasi penerapan IHR ini. Hasil JEE memperlihatkan, Indonesia mencapai kemampuan cukup baik. Dari 48 indikator, 34 telah mengembangkan kemampuan (nilai 40-70%), 14 memperlihatkan kemampuan (nilai >70%) dan tidak ada yang kemampuannya nol.

Segera setelah selesai JEE, pengembangan rencana aksi nasional (RAN) ketahanan kesehatan, didukung instruksi Presiden. Selain itu, pengembangan rencana aksi ini berjalan bersamaan dengan pengembangan rencana pembangunan jangka menengah nasional 2020-2024, di mana termasuk di dalamnya fokus penguatan sistem kesehatan berdasarkan pendekatan Primary Health Care.

Pendekatan inovatif pada 2018 adalah dengan memasukkan kewaspadaan bencana sebagai standar pelayanan minimum bagi provinsi dan kabupaten/kota. Standar-standar ini jelas menunjukkan, pentingnya kewaspadaan bencana lokal di dalam pemerintahan daerah melalui kesiapan menghadapi situasi yang tidak diharapkan terjadi (contingency plan). Bagi perangkat organisasi pemerintah daerah untuk bersama masyarakat menyelenggarakan latihan dan simulasi mengantisipasi bencana alam maupun wabah.

Setelah mengenalkan seluk-beluk virus, cara penularan, pemeriksaan (test), pengobatan, dan pencegahan, serta perihal kerjasama internasional, saya menganjurkan, pertama, penyediaan dan pemberian informasi meluas berbasiskan pengetahuan ilmiah. Khusus mengenai virus, cara penularan, pemeriksaaan (tes), pengobatan dan pencegahan, agar pengaturan penghentian wabah ini cocok dengan posisi dan kerentanan yang berbeda-beda, sesuai kelas ekonomi dan jenis pekerjaan. Juga sesuai jenis dan kualitas rumah serta permukiman, latar belakang pendidikan, posisi geografis, jenis kelamin, serta kategori umur.

Kedua, perlu penerapan rencana aksi nasional untuk kedaruratan kesehatan dengan mengutamakan penguatan sistem kesehatan nasional berdasarkan primary health care, kerjasama internasional, dan berbasiskan penelitian memadai.

Ketiga, perlu terapkan pengembangan ekonomi yang sejalan dengan ekologi, terutama mendukung komunitas untuk hidup sejahtera. Juga, menjaga keseimbangan alam dengan basis pelestarian keanekaragaman hayati agar mencegah epidemi mendatang, termasuk pencegahan binatang liar, seperti burung, kelelawar, musang dan lain-lain, sebagai sumber makanan.

Keempat, penyebaran (diseminasi) informasi berbasiskan pengetahuan ilmiah secara meluas akan menggerakkan pembentukan motivasi perorangan dan kelompok serta kelembagaan untuk mencegah transmisi virus SARS-CoV2 antar manusia. Ketika ditemukan orang dengan COVID-19, atau diperkirakan memiliki potensi terpapar, melalui deteksi dini yang meluas melalui tes cepat, dapat jalankan protokol standar yang sudah diketahui.

*Ilsa Nelwan, adalah dokter yang menyelesaikan master of Public Health (MPH) Field Of Study Epidemiology, Columbia University School of Public Health. Penulis pernah bekerja di World Health Organization Asia Tenggara sebagai Health Systems Regional Advisor.

 

MONGABAY.co.id

0 Reviews

Write a Review

Leave a Reply