Nawanua, Negeri Tua Kakaskasen

Waruga di Kakaskasen.

INGIN ARTIKEL DIBACAKAN: https://publikreport.com

Oleh: Adrianus Kojongian
(adrianuskojongian.blogspot.co.id)

HAMPIR tiap kota dan desa/kelurahan di Tanah Minahasa memiliki negeri-negeri tua. Begitu pun dengan Kakaskasen, kini empat kelurahan bagian dari Kecamatan Tomohon Utara Kota Tomohon.

Negeri tuanya yang disebut dengan nama Nawanua, atau Nimawale atau Nawale atau Nimawanua, dan sebelumnya lagi Maiesu (Meyesu), dari tradisi-tradisi setempat dipercaya menjadi awal dari pengembangan dan penyebaran penduduk Tombulu.

Begitu pun ibukota Pakasaan, Balak (kemudian Distrik) Kakaskasen sempat bertempat di situ, sebelum dipindah ke Kali dan terakhir Lota, sekarang di Kecamatan Pineleng Kabupaten Minahasa. Bekas Distrik Kakaskasen baru dihapus tahun 1908.

Nawanua Kakaskasen sempat berpindah dua kali, setelah konsentrasi penduduk Tombulu di Maiesu, Kinilow tua, mulai pecah dan berpencar di masa akhir pemerintahan Tonaas Makiohlor (Makiohloz, Ohlor).

Tonaas Ruru keluar dari Maiesu dan mendirikan Nawanua Kakaskasen pertama (kini masuk Kelurahan Kakaskasen I). Nawanua diperkirakan mencakup hingga ke Nawale Kinilow, di bagian bernama Lewet, sekitar 2 kilometer baratdaya Kinilow. Nawale atau Nawanua Kakaskasen-Kinilow berperan sebagai pusat pemerintahan Pakasaan Kakaskasen sampai Spanyol lalu Belanda berkuasa di Tanah Minahasa.

Saat padri Fransiskan Blas Palomino berkunjung di bulan April 1619, ibukotanya disebut telah berada di Kali, dengan kepala pakasaan yang ditulisnya sebagai raja bernama Bungkar atau Wongkar atau Wangkar.

Masa itu, nama Kakaskasen sudah lazim dipakai, seperti telah dicatat Padri Palomino tahun 1619 itu sebagai Cascasse. Sama dilafalkan Gubernur Maluku di Ternate Dr.Robertus Padtbrugge tahun 1682. Padtbrugge malah mencatatkan penduduk Kakaskasen sebanyak 100 awu atau sekitar 500 jiwa. Banding penduduk Tomohon (bersama Kamasi dan Talete) 880 awu (4.400 jiwa),Sarongsong 70 awu (350 jiwa), dan Tombariri di Katingolan Woloan 400 awu (2000 jiwa).

Ibukota Pakasaan Kakaskasen kembali ke Nawanua Kakaskasen setelah timbul perang pengusiran Spanyol tahun 1644. Pemimpin Kakaskasen bernama Lontaan menjadi tokoh yang dimitoskan ikut bersama Supit, Lontoh dan Paat, pergi ke Ternate sebagai duta Minahasa untuk mengundang Belanda datang ke Minahasa, membantu mengusir Spanyol.

Masa itu pula, entah karena bencana alam atau penyakit, terutama ancaman gunung Lokon meletus sewaktu-waktu, ibukota Kakaskasen di Nawale (Kakaskasen I) dipindah lagi ke arah selatan. Letaknya, mendekati persipatan dengan Tomohon di Kamasi.

Nawale kini dikenal umum sebagai Nawanua (lokasi di Kakaskasen III). Peta masa Gubernur Padtbrugge menyiratkan posisi ibukotanya telah berada di Nawanua ini.

Negeri Kakaskasen di Nawanua, letaknya sangat strategis dan menguntungkan, karena dilindungi bambu runcing ditanam dalam perbentengan parit-parit lebar dan dalam.

Nawanua ini, menurut penulis sejarah Kakaskasen Paulus Abednedju Lenzun, terletak di satu dataran dimana mataair Kinaskas berada di tengah-tengahnya. Sipatnya di utara adalah satu dataran perkebunan (sejak Agustus 1936 Seminari Menengah, kini SMA Katolik St.Fransiskus Xaverius). Di barat dataran perkebunan, selatan dengan sungai dan air terjun Kilomata berketinggian sekitar 20 meter. Perkampungannya pada sebelah timur, utara dan barat dibangun benteng parit berair sedalam 6 meter dan lebar 3 meter Peta masa Padtbrugge. *) yang dilengkapi jebakan Sura dari bambu runcing. Perumahan dibangun di sebelah utara, barat dan sebagian di timur, karena sebagian sebelah timur terdapat pemakaman waruga.

Dikisahkan yang menjadi Kepala Balak Kakaskasen pertama, sebagai pengganti Lontaan adalah Kalalo. yang bertanda pada Perjanjian 10 Januari 1679.

Kepala Balak Kakaskasen yang menjabat kemudian adalah Sulu, anak Kalalo. Berikutnya Parengkuan tampil memimpin. Ia memindahkan ibukota Balak Kakaskasen di Lota, sebab dianggap dekat dengan Manado sebagai pusat keresidenan.

Salah seorang pemimpin Kakaskasen dalam perang pengusiran Raja Bolaang Loloda Mokoagow adalah Tonaas Worung yang disebut identik dengan Worang yang waruganya berada di Nawanua. Waruganya masa Gubernur H.V.Worang dipindah ke kompleks tugu Worang, kini di pertigaan jalan ke Wailan-Kayawu, depan bekas kantor Walikota (eks Rindam Wolter Mongisidi).

Untuk Gubernur Worang, penulis Ibrahim Palit menuliskan silsilah dari Tonaas Worang. Dirincikannya kalau mantan gubernur yang gemar dengan tokoh-tokoh mitos Minahasa itu sebagai keturunan ke-14 sang Tonaas Worang dari Kakaskasen. Kemudian, Kakaskasen sebagai bekas kota tua Balak Kakaskasen, tinggal menjadi salah satu negeri bagian dalam Balak lalu Distrik Kakaskasen berkedudukan di Lota.

Ketika Distrik Kakaskasen dihapus tahun 1908, negeri Kakaskasen digabungkan dengan Distrik Tomohon, hingga saat ini. Perannya sejak tanggal 5 November 2001 adalah sebagai ibukota Kecamatan Tomohon Utara.

Dari negeri Kakaskasen, keluar para pionir yang mendirikan Kayawu tahun 1850 dibawah Habel Wongkar, lalu Wailan tahun 1895 dibawah Johan Sumendap. Kedua kelurahan ini sekarang bagian dari Kecamatan Tomohon Utara. Nawanua tahun 2006. *)

UPACARA ADAT

Seperti nasib kota tua Tomohon di Nimawanua Kolongan, kota tua Kakaskasen di Nawanua ditinggalkan gara-gara terjadinya gempabumi hebat tanggal 8 Februari 1845. Parahnya, karena bersamaan pula gunung Lokon meletus. Namun, berbeda dengan negeri tua lainnya, sebelum terjadi gempa penduduk telah meninggalkannya.

Para tetua Kakaskasen seperti Paulus Lenzun dan Boy Tangkawarouw mengisahkan, di awal tahun 1845 penduduk Kakaskasen di Mawanua telah melihat tanda-tanda gunung Lokon akan meletus. Mereka mawas diri. Pikir mereka muntahan lahar yang disertai semburan pasir, batu berapi dan debu akan gampang menimpa pemukimannya, seperti pada peristiwa sebelumnya yang menelan banyak korban dan rumah-rumah hancur.

Karenanya dengan dipimpin oleh Kawengian Lasut, tonaas yang dikirim dari Lota, penduduk berpindah ke arah barat, membangun negerinya dengan pusat sekarang, kira-kira di Kelurahan Kakaskasen II. Nama negerinya adalah tetap Kakaskasen, seperti sebelumnya.

Pemindahan penduduk, menurut Paulus Lenzun, mantan Hukum Tua Kakaskasen tahun 1945, dilakukan setelah ada pertanda bagus dari upacara adat dengan Komba dan Menonsoring. Komba adalah mengantar persembahan dipimpin Walian di Watu Pasuwengan. Dan, Menonsoring adalah mendengar melalui burung malam dilakukan tonaas yang meniup suling kecil dari bambu, mendengar tanda burung malam yang hinggap di sebatang pohon rindang.

Di lokasi Kakaskasen baru inilah pada tanggal 21 Januari 1845 berlangsung pembaptisan pertama atas 70 orang Kristen pertama Kakaskasen oleh Pandita Nicolaas Philip Wilken.

Sangkaan penduduk sebelumnya memang terbukti. Dikisahnya, gunung Lokon meletus dahsyat, diikuti gempabumi awal Februari 1845. Lahar gunung Lokon mengalir melalui sungai Pasahapen yang menyatu dengan sungai Taingkere menuju ke utara liwat Kinilow.

Sisa-sisa lahar yang membeku masih dapat disaksikan hingga kini di lokasi mataair panas Pasahapen di Kakaskasen I, licin persis porselin. Meski pun selamat dari bencana, tetapi tidak urung penduduk menderita. Mereka terpaksa menanak nasi dengan menggunakan buluh tambelang.

SITUS TERSISA

Kini Nawanua, negeri yang ditinggalkan di tahun 1845 itu tinggal menyisakan sekitar 12 waruga berukuran sedang dan kecil. Juga sisa-sisa parit dan mataair Kinaskas di sebelah barat kumpulan waruganya. Mata air Kinaskas tersebut menjadi sumber tercetusnya nama Kakaskasen oleh leluhurnya bernama Makiohlor beberapa abad sebelumnya Nama yang baru diukir kemudian. *) Terakhir dilihat, kesemua waruga tersebut tampak tidak terawat, terkecuali dua waruga yang sering dikunjungi para tonaas. Semak-belukar menyembunyikan waruga-waruga tersebut dari penglihatan. Menurut Frans Sangi, warga dari Kelurahan Kamasi, salah satu waruga tersebut adalah kubur dari leluhurnya bernama Tumalun yang peninggalannya berupa senjata bermata tiga berada di tangannya. Tumalun dikenal sebagai tokoh legendaris Tomohon yang mengayau kepala Malonda, raksasa dari Pareipei Remboken. Tombak itulah yang konon digunakan Tumalun menombak kaki Malonda dari Pareipei, kemudian mengayaunya.

Perkiraan warga sekitarnya, selain sekitar duabelasan waruga yang ada sekarang, kompleks Nawanua yang dulunya dipagari dengan benteng bambu berduri, masih memendam puluhan waruga lainnya. Rata-rata waruga di tempat ini pun hanya menampak penutup, dengan badannya masih tertimbun.

Sebelumnya, di Nawanua di Kakaskasen I dan Nawanua kedua di Kakaskasen III berada waruga-waruga berukuran cukup besar dari enam orang tonaas Tombulu asal Kakaskasen terkenal. Mereka adalah: Worang, Pinontoan, Kalalo, Lasut, Mandagi dan Rumondor. Masa Gubernur Worang tahun 1972, waruga-waruga tersebut dipindah ke lokasi di pertigaan Kakaskasen III, di pinggir ruas Kakaskasen-Wailan-Kayawu.

Pemindahan waruga yang berat tersebut dilakukan secara adat tradisi, setelah tali kapal gagal digunakan. Justru, tali buluh teling muda mampu melakukannya. Yang tersisa sekarang di Nawanua Kakaskasen I hanya beberapa waruga. Antaranya waruga Tonaas Ruru, alias Rurugala, pendiri Kakaskasen Nawale, di dekat kantor Kelurahan Kakaskasen I.

Tonaas Ruru sering disamakan sebagai Ruru Ares, salah seorang tokoh pendiri Ares, meski ada versi sebagai tokoh-tokoh berbeda. Di Nawanua Kakaskasen III ada pula lokasi bukit bernama Wuntu yang dikisahkan timbul dari pencacahan yang dilakukan Akha um Banua (Kolano, Kalaw Witi atau Kepala Pakasaan) Kakaskasen. Karena penduduk tumbuh pesat, untuk menghitung ia menyuruh semua masyarakat, baik tua mau pun muda menggenggam sekepal tanah yang kemudian dikumpul sehingga kemudian menjadi bukit kecil.

Kisah Wuntu hampir identik dengan tokoh Makiohlor (Ohlor atau Kiohlor) dalam cerita Zendeling Nicolaas Wilken, berkaitan foso Mengelur memerangi jin penyebab malapetaka. Setelah daun beringin dipetik habis dan semut diambil, ternyata penduduk masih banyak. Maka, mereka disuruh Makiohlor mengambil tanah, yang kemudian terbentuk satu gunung kecil.

Di Nawanua pun berada Watu Pahsaruan ne Wuri, petilasan Wuri Muda, seorang tokoh mitos Minahasa yang dikenal sakti serta ditutur dapat menghilang. Ada mempercayai ia dikuburkan di tempat ini. Lokasinya sangat sering didatangi orang-orang tertentu untuk meminta berkah dan ilmu.

Agak ke timur Nawanua, kini masuk Kelurahan Kakaskasen berada Watu Pasuwengan, tempat penduduk Kakaskasen dulu menggelar upacara-upacara foso dan member sesembahan. Lokasi ini pun dihadiskan sebagai tempat Dotu Toar dilahirkan. Sebagian kompleks Watu Pasuwengan sekarang menjadi Auditorium Bukit Inspirasi milik GMIM. Disumbangkan pemiliknya Hans Pandelaki, mantan Menteri Negara Bidang Keuangan tahun 1964-1965.

Sekarang, kompleks Nawanua Kakaskasen mulai dirambahi perumahan penduduk. Apalagi sejak Jalan Lingkar Barat Tomohon dibangun melewatinya. Di dekatnya pula berada biara suster pertapa kontemplatif Ordo Karmelit tak berkasut (OCD) yang berdiri sejak Mei 1949 bernama Santa Theresia.***

0 Reviews

Write a Review

Read Previous

Pierre Tendean, Perwira Muda Ganteng dan Kisah Cintanya yang Berujung Pilu

Read Next

Asal Muasal Tou Minahasa di Tombulu (Tomohon)

Leave a Reply