Pengkayaan Karang dan Bakau untuk Perbaiki Kondisi Taman Nasional Bunaken. Seperti Apa?

Siswa-siswi terlibat dalam kegiatan pengkayaan bakau dan mangrove di Desa Wawontulap, Minahasa Selatan, Sulut, Selasa 20 Maret 2018. (Foto: Humas Balai TN Bunaken/Mongabay Indonesia)

Siapa yang tak kenal Bunaken? Salah satu destinasi wisata unggulan di Sulawesi Utara (Sulut). Dengan panorama yang indah, dan terutama surga bawah laut yang luar biasa dengan beragam ikan dan terumbu karangnya.

Akan tetapi mirip dengan destinasi wisata di tempat lain di Indonesia, Bunaken juga mengalami tekanan. Terumbu karang dan kawasan pesisir terancam, terutama oleh aktivitas manusianya.

Salah satu tempat yang menjadi perhatian adalah kawasan pesisir adalah Wawontulap merupakan desa pesisir yang berada di bagian selatan Taman Nasional (TN) Bunaken. Dari Manado, jarak tempuh diperkirakan 25 km. Menurut catatan Balai TN Bunaken, di sepanjang pesisir dari desa Popareng hingga perbatasan Wawontulap, sebagian besar bakau yang terlihat dan teridentifikasi berjenis Rhizophora sp.

Di wilayah itu, sering pula disaksikan sekitar 10 hingga 12 ekor burung yang sedang mencari makan. Pemandangan itu diyakini menjadi sebagai bioindikator lingkungan. Artinya, masih menurut catatan Balai TN Bunaken, keragaman dan kelimpahan jenis burung dan mengindikasikan baik atau tidaknya kondisi habitat tersebut.

Menurut Eko Handoyo, Humas Balai TN Bunaken, desa Wawontulap menjadi salah satu sentra perikanan dan berpotensi dikembangkan menjadi rural village. Dia menilai, desa ini cukup rerpresentatif untuk mewakili desa-desa di sekitarnya. Sebab, kondisi karangnya berada dalam kategori sedang.

Agar masyarakat lebih terlibat dalam memperbaiki kondisi lingkungan hidup, Balai TN Bunaken menggelar kegiatan pengkayaan karang dan bakau di desa Wawontulap, kabupaten Minahasa Selatan, Selasa, 20 Maret 2018.

Lewat kegiatan tersebut, Balai TN Bunaken berharap, kedepannya ekosistem karang dan bakau dapat menjadi lebih baik. “Edukasi ini berusaha memberi tahu masyarakat bahwa karang dalam kondisi sedang. Tidak buruk, tapi tidak juga baik. Dengan kegiatan pengkayaan, semoga kita bisa mewariskan lingkungan hidup yang lebih baik buat generasi selanjutnya,” ujarnya ketika dihubungi Mongabay, Rabu, 21 Maret 2018.

Kata Eko, sebagai bentuk edukasi dan partisipasi, masyarakat sekitar dilibatkan dalam penyiapan bahan tanam bakau berupa ajir sebanyak 500 bibit. Penanaman itu dilakukan dengan sistem propagul berjarak 1 x 1 meter.

“Propagul adalah buah mangrove yang telah mengalami perkecambahan. Dipilihnya konsep ini karena kemudahan mencari bibit di sekitar lokasi kegiatan, sesuai dengan pengkayaan ekosistem, serta mudah tumbuh,” terangnya.

Sementara, masih dikatakan Eko, pengkayaan karang menggunakan pendekatan transplantasi dengan media besi yang dibentuk seperti rak meja. Jumlah rak disiapkan sebanyak 5 buah dengan isi fragmen karang transpant sebanyak 175 buah.

Dia mengatakan, terumbu karang merupakan habitat satwa, biota dan ikan. Ia juga merupakan ekosistem unik yang membutuhkan waktu berjuta tahun untuk dapat tercipta utuh dan indah.

Sedangkan, bakau berfungsi melindungi pantai dari erosi dan abrasi, intrusi air laut, melindungi pemukiman dari terpaan gelombang dan badai. Selain itu, ia menjadi tempat berkembang biak berbagai satwa seperti udang, kepiting, burung serta menjadi bagian edukasi wisata. Bahkan, zat hijau daun bakau diyakini dapat menyerap karbon CO2 sehingga memitigasi perubahan iklim.

“Melalui edukasi dan pelibatan aktif masyarakat melalui pengkayaan karang dan bakau di Wawontulap diharapkan akan mengetahui manfaat yang besar untuk kelangsungan hidup baik sebagai sumber nafkah (perikanan) dan sumber jasa (wisata alam), sehingga masyarakat terlibat dalam pelestarian kawasan Taman Nasional Bunaken,” tambahnya.

Djoni Sambur, ketua kelompok role model Popareng menilai, lewat kegiatan itu, masyarakat sekitar yang sebagian besar berprofesi sebagai nelayan dapat memahami dampak postif dari lestarinya karang dan bakau.

“Kemarin sempat disampaikan, ketika masyarakat menjaga karang dan bakau, maka populasi ikan akan terjaga atau bertambah. Karena bakau dan karang merupakan tempat ikan bertelur dan berkembang untuk hidup,” ujarnya.

Djoni berharap, seperti masyarkat di desanya, masyarakat desa Wawontulap juga bisa terlibat dalam upaya-upaya perlindungan lingkungan hidup. Apalagi, terangnya, sebagian masyarakat di kedua desa itu berprofesi sebagai nelayan.

Djoni menceritakan, sudah 3 tahun belakangan ini, pihaknya membuat sosialisasi dan edukasi terkait agenda-agenda penyelamatan lingkungan. Lewat berbagai kegiatan, ia mengajak masyarakat sekitar untuk menjaga lingkungan.

“Kalau masyarakat di desa kami (Popareng) bisa merasakan dampak positif dari pelestarian lingkungan, semoga masyarakat desa Wawontulap juga bisa merasakannya,” tambah Djoni. “Semoga dengan semakin baiknya kondisi bakau dan karang, hasil tangkapan ikan juga bisa meningkat di kemudian hari.”

Pengkayaan karang dan bakau ini merupakan rangkaian kegiatan dalam peringatan Hari Bakti Rimbawan ke 35. Tema yang diusung adalah “Melalui Bhakti Rimbawan, Kita Tingkatkan Pengelolaan Lingkungan Hidup Untuk Kesejahteraan Rakyat”.

Kegiatan itu juga melibatkan berbagai unsur, misalnya Pemerintah Kabupaten Minahasa Selatan, Kodim Minahasa 1302 Minahasa, Polres Minahasa Selatan, Koramil Tumpaan, Polsek Tumpaan dan Pos AL Arakan. Balai Taman Nasional Bunaken juga melibatkan, siswa-siswi pelajar SDN Wawontulap, SMPN Satap Tatapaan dan Kader Konservasi Taman Nasional Bunaken.

 

MONGABAY.co.id

0 Reviews

Write a Review

Read Previous

Bolmong Tarik Dana di Bank SulutGo, Alihkan ke BNI

Read Next

Tim Gabungan Razia Narkoba di Tomohon

Leave a Reply