PUBLIKREPORT.com

Penularan Covid-19 Terjadi dari Orang-orang Terdekat

Doni Monardo, Ketua Satgas Penanganan Covid-19/Kepala BNPB.

Doni Monardo, Ketua Satgas Penanganan Covid-19/Kepala BNPB.

INGIN ARTIKEL DIBACAKAN: Klik

“Bukan orang yang jauh dari kita. Yang menulari kita adalah orang yang terdekat, siapa orang terdekat, yakni keluarga, saudara, sanak, famili atau teman sekerja. Itulah yang berpotensi. Jadi sebenarnya kita yang terdekat satu sama lain itu adalah saling mengancam kalau tidak hati-hati”

Doni Monardo, Ketua Satgas Penanganan Covid-19/Kepala BNPB.

ACEH, publikreport.com– Ketua Satuan Tugas (Satgas) Penanganan Covid-19 (Coronavirus Disease 2019) sekaligus Kepala Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB), Doni Monardo meminta agar seluruh lapisan masyarakat memahami dan sadar bahwa manusia menjadi perantara utama menularnya virus SARS-CoV-2 penyebab penyakit Coronavirus Disease 2019 atau Covid-19. Dalam hal ini, perantara penularan penyakit Covid-19 berbeda dengan flu burung atau flu babi. Penularan virus corona jenis baru itu terjadi setelah ada kontak langsung dari orang-orang terdekat.

“Covid-19 ini yang menyebarkan bukan seperti flu burung atau flu babi. Flu babi dan flu burung ditularkan oleh hewan, Covid-19 ini ditularkan oleh manusia,” jelas Doni dalam Rapat Koordinasi (Rakor) Penanganan Covid-19 dan Penyerahan Bantuan bersama Pemerintah Provinsi Aceh, di Aceh, Sabtu 26 September 2020.

Terjadinya penularan penyakit yang menyerang sistem pernafasan itu, menurut Doni, justru berasal dari orang-orang yang terdekat dan berada di lingkup sekitar. Dengan kata lain, orang-orang terdekat ini saling mengancam apabila tidak menerapkan protokol kesehatan seperti memakai masker, mencuci tangan dengan sabun dan menjaga jarak.

“Bukan orang yang jauh dari kita. Yang menulari kita adalah orang yang terdekat, siapa orang terdekat, yakni keluarga, saudara, sanak, famili atau teman sekerja. Itulah yang berpotensi. Jadi sebenarnya kita yang terdekat satu sama lain itu adalah saling mengancam kalau tidak hati-hati,” ungkapnya.

Hal itu, Doni menegaskan, dibuktikan berdasarkan hasil data Satgas Penanganan Covid-19 yang menunjukkan bahwa sebanyak tujuh persen penderita Covid-19 di Wisma Atlet adalah mereka yang tidak pernah keluar rumah. Data tersebut sekaligus kembali menegaskan bahwa para penderita Covid-19 tertular dari orang-orang yang berada didekatnya.

“Tujuh persen responder yang dirawat di Rumah Sakit Wisma Atlet itu adalah kelompok yang tidak pernah beraktivitas di luar rumah,” bebernya.

Dari data tersebut, Doni mengatakan, tidak ada lagi tempat yang aman, terutama bagi wilayah yang berada pada zona pandemi.

Sebelumnya pemerintah telah memberi imbauan untuk masyarakat agar tetap berada di rumah, namun hal itu pun menjadi tidak efektif ketika salah satu anggota keluarga tidak patuh menjaga protokol kesehatan dan tidak hati-hati.

“Jadi sebenarnya tidak ada lagi tempat yang aman ketika kondisi kita sekarang ini masih ada pandemi,” ujar Doni.

Melihat adanya situasi tersebut, Doni mengingatkan, ancaman pandemi Covid-19 tidak akan berakhir dan manusia akan terus menjadi perantara.

Adapun bilamana kemudian pemerintah akan memberikan vaksin, maka hal juga tidak berarti kemudian seseorang tidak tertular dan menghentikan Covid-19. Akan tetapi dengan vaksin, seseorang memiliki kekebalan tubuh lebih kuat dalam merespon dan melawan adanya infeksi virus.

Dalam hal ini, pemberian vaksin pada tahap awal juga akan diutamakan bagi mereka yang termasuk dalam kelompok rentan mulai dari lansia, penderita penyakit komorbid dan tenaga medis serta kesehatan.

“Yang disuntik atau yang divaksinasi itu orang-orang yang berisiko dulu. Tenaga kesehatan, perawat, dokter dan juga mereka yang berisiko tinggi memiliki komorbid,” jelas Doni.

BACA JUGA:

“Namun sekali lagi, vaksin ini tidak serta merta menghentikan Covid-19. Covid-19 nya ada terus, yang divaksin ini bisa tahan, sementara yang tidak divaksin tetap saja nanti bisa menjadi terpapar Covid-19,” sambungnya.

Oleh sebab itu sekali lagi Doni menegaskan bahwa Covid-19 berbahaya dan manusia dapat menjadi lebih berbahaya sebagai perantara utama virus.

“Covid-19 berbahaya, tetapi manusia yang menjadi carrier atau membawa virus Covid-19 itu jauh lebih berbahaya. OTG (orang tanpa gejala) ini adalah silent killer, ini adalah pembunuh potensial. Kalau mereka masih berada di luar, mereka sendiri tidak sadar, dia pergi kemana-mana, kemudian ketemu dengan keluarganya, saudaranya, orang yang dicintainya dan secara tidak langsung menulari. Ini yang berbahaya,” paparnya.

Dalam kesempatan tersebut, BNPB sebagai Satgas Penanganan Covid-19 juga memberikan dukungan bantuan kepada Pemerintah Provinsi Aceh untuk penanganan Covid-19. Bantuan tersebut diserahkan secara simbolis dari Ketua Satgas Penanganan Covid-19 Doni Monardo kepada Pelaksana Tugas (Plt) Gubernur Aceh Nova Iriansyah.

Bantuan tersebut berupa 2 buah ventilator, 2 buah disinfectan spryer, 5 buah thermometer gun, 10 jerigen handsanitizer, 50 APD Hazmat, 2.000 face shield, 10.000 lembar masker respirator KN95, 30.000 lembar masker non medis dan masker kain sebanyak 200.000 lembar.

0 Reviews

Write a Review

Read Previous

Pjs Gubernur Sulut Pantau Penerapan Protokol Kesehatan

Read Next

Komunitas Kejar Mimpi Bantu Anak-anak Panti Asuhan