Petani: Kenaikan Harga Beras Tak Berpengaruh

Om Marsel Runtu petani sawal penggarap asal Kelurahan Woloan III di areal persawahan Perkebunan Wanambawa. (Foto: Prisilia Y Kilis/publikreport.com)

Om Marsel Runtu petani sawal penggarap asal Kelurahan Woloan III di areal persawahan Perkebunan Wanambawa. (Foto: Prisilia Y Kilis/publikreport.com)

INGIN ARTIKEL DIBACAKAN: https://publikreport.com

Tak Gabung ke Kelompok Tani, Om Marsel Mengaku Tak Mendapat Bantuan Pemerintah

TOMOHON, publikreport.com – Petani sawah di Perkebunan Wanambawa mengaku kenaikan harga beras akhir-akhir ini tidak berpengaruh pada mereka. Apalagi, Tomohon belum memasuki masa panen.

“Untuk saat ini mungkin tidak berpengaruh,” kata Om Marsel Runtu seorang petani sawah, saat ditemui publikreport.com, Kamis 25 Januari 2018, di Perkebunan Wanambawa Kelurahan Woloan III Kecamatan Tomohon Barat Kota Tomohon Provinsi Sulawesi Utara (Sulut).

Wanambawa merupakan salah satu persawahan terbesar di Kota Tomohon selain areal persawahan yang ada di Tara-tara Kecamatan Tomohon Barat. Sayangnya, petani di Wanambawa hanya merupakan penggarap saja, alias lahan pertanian bukan milik sendiri.

“Rata-rata kami di sini hanya sebagai petani penggarap sawah saja,” tambahnya.

BACA JUGA: Petani Kakaskasen dan Wailan Minta Jalan Ini Diaspal
BACA JUGA: Minta Perbaikan Jalan Pertanian, Petani: Kami Sudah Membuat Pengaduan
BACA JUGA: Nomor Hp Kadis PUPR dan Kabid Bina Marga ‘Rahasia’

Sebagai petani, Om Marsel mengaku dirinya tidak mendapat bantuan dari pemerintah.

“Saya tidak pernah dapat bantuan dari pemerintah karena saya tidak tergabung dalam Kelompok Tani,” katanya.

BACA JUGA: We’lu Woloan, Destinasi Wisata yang (Masih) Tersembunyi

Terpisah, Ketua Kelompok Tani (Poktan) Makaaruyen Woloan, Frederik Markus Kojongian saat ditemui publikreport.com di kediamannya mengatakan hal senada dengan Marsel Runtu.

“Mungkin berpengaruh. Namun tidak sekarang. Karena sekarang belum masa panen,” ucapnya.

Kelompok Tani Makaaruyen, menurut Frederik, dalam mengolah sawah mencoba menanam jenis padi Inpari 30 yang merupakan bibit padi bantuan dari Dinas Pertanian dan Balai Pengkajian Teknologi Pertanian (BPTP).

“Uji coba menanam padi jenis ini sudah yang kedua kalinya,” jelas Om Edi, panggilan akrab Frederik Markus Kojongian yang juga adalah Ketua Gabungan Kelompok Tani (Gapoktan) di Woloan.

BACA JUGA; Kisah Opa Laurens, Seorang Penyapu Jalan di Tomohon
BACA JUGA: 20 Tahun, Opa Saul Jadi Kusir Bendi
BACA JUGA: Oma Altje, Tibo Tangguh di Pasar Tomohon

Hasil panen yang diperoleh petani yang tergabung dalam Poktan Makaaruyen ini, Om Edy mengungkapkan, berkisar pada 7,5 ton gabah per hektare.

Kemana hasil panen ini dipasarkan? Om Edy mengatakan tidak di jual ke pasar. Sebab, pemerintah menyarankan agar di masukkan/dijual ke Bulog (Badan Urusan Logistik).

BACA JUGA: Mereka di Kaki Menara Alfa Omega
BACA JUGA: Pustu/Poskesdes Terlantar, Kepala Dinas: Jarang Kunjungan Masyarakat
BACA JUGA: Dinpar: Tourism Information Center Pernah Ada, tapi Tidak Difungsikan

Selain bibit padi, apa saja bantuan yang diberikan pemerintah kepada petani dan Poktan maupun Gapoktan? Om Edy mengaku, pemerintah memfasilitasi petani termasuk anggota Poktan dengan memberikan bantuan, racun hama, hand tracktor dan jala burung sebanyak 100 buah untuk satu hektare lahan. YELLI PRISILIA

 

0 Reviews

Write a Review

Read Previous

Bertemu Pejabat Dinas Perhubungan Kota Tomohon Harus Bawa Surat Izin

Read Next

Sawah di Perkebunan Wanambawa, Tomohon Barat

Leave a Reply