Ratusan Prajurit TNI Akan Mengajar di Daerah 3T

Ilustrasi. Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud) melalui Direktorat Jenderal (Ditjen) Guru dan Tenaga Kependidikan (GTK) memberikan pembekalan melalui bimbingan teknis (bimtek) kepada 900 prajurit Tentara Nasional Indonesia (TNI) Angkatan Darat (AD) untuk mengajar di daerah terluar, terdepan, dan tertinggal (3T).

Kirim 2 juta buku ke wilayah 3T.

***

..tugas para prajurit adalah sebagai pelengkap, bukan untuk menggantikan guru. Namun, untuk mengisi kekosongan guru di daerah 3T sampai ada guru yang ditugaskan oleh dinas pendidikan setempat.

PADANG, publikreport.com – Sebanyak 900 prajurit Tentara Nasional Indonesia (TNI) Angkatan Darat (AD) dibekali Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud) melalui Direktorat Jenderal (Ditjen) Guru dan Tenaga Kependidikan (GTK). Para prajurit ini diberikan pembekalan melalui bimbingan teknis (bimtek) untuk mengajar di daerah terluar, terdepan, dan tertinggal (3T). Hal ini merupakan salah satu bentuk sinergi berkelanjutan antara Kemendikbud dengan TNI AD untuk mengatasi kekurangan tenaga pengajar di daerah 3T.

Direktur Jenderal (Dirjen) GTK Kemendikbud, Supriano, mengatakan tugas para prajurit adalah sebagai pelengkap, bukan untuk menggantikan guru. Namun, untuk mengisi kekosongan guru di daerah 3T sampai ada guru yang ditugaskan oleh dinas pendidikan setempat.

“Misalnya di SD (Sekolah Dasar) tidak ada guru olahraga, para prajurit ini bisa mengajar olahraga. Sampai nantinya ada guru olahraga yang ditugaskan oleh Dinas Pendidikan (Dindik) setempat,” jelas Supriano saat membuka bimtek di Batalyon 133/Yudha Sakti, Padang, Sumatera Barat (Sumbar), Selasa 05 November 2019.

Kewajiban kita mencerdaskan seluruh anak-anak di Indonesia mulai dari perbatasan dan daerah terpencil. Memberikan kesempatan kepada mereka mendapat pendidikan dengan baik,” tambahnya.

Asisten Teritorial Kepala Staf Angkatan Darat (KSAD), Mayor Jenderal (Mayjen) Bakti Agus Fadjari mengatakan para prajurit TNI AD harus menjalankan tugas sebaik-baiknya.

“Tugas operasi adalah tugas tertinggi dalam militer. Ini adalah kebanggaan setiap prajurit. Laksanakan tugas menjaga perbatasan, dan juga bantu pendidikan di daerah perbatasan. Jangan sampai mereka diajar justru oleh negara tetangga,” pesannya.

Kepada Kemendikbud, Bakti mengucapkan terima kasihnya karena telah memberikan pembekalan penguatan kompetensi bagi prajurit-prajurit yang akan bertugas menjaga daerah-daerah perbatasan.

Peningkatan kualitas sumber daya manusia (SDM) merupakan tanggung jawab bersama. Apa yang dilakukan ini merupakan upaya untuk membangun SDM yang unggul,” ujarnya.

Para personil TNI AD diberikan pembekalan lima kemampuan pendidikan, yakni penguatan pendidikan karakter; bela negara, baca, tulis, hitung, kecakapan hidup dan kepanduan. Materi-materi tersebut akan dibimbing dan dilatih oleh widyaiswara dan dosen-dosen yang berpengalaman dari Pusat Pengembangan dan Pemberdayaan Pendidikan dan Tenaga Kependidikan (P4TK) Bahasa, Lembaga Penjamin Mutu Pendidikan (LPMP) Kalimantan Timur (Kaltim), Dinas Pendidikan (Dindik) DKI Jakarta, dan Universitas Pendidikan Indonesia (UPI) Bandung. Para prajurit tersebut diberikan pembekalan dengan pola Bimtek 40 jam.

Kirim 2 juta buku ke wilayah 3T

Sebanyak 2.402.320 eksemplar buku dikirimkan Kemendikbud ke wilayah 3T (tertinggal, terdepan, terluar). Kepala Badan Pengembangan Bahasa dan Perbukuan, Dadang Sunendar, mengatakan, pencetakan dan pengiriman buku-buku literasi ke wilayah-wilayah 3T di tanah air merupakan salah satu upaya untuk pemerataan tingkat literasi masyarakat.

Saya mengapresiasi program ini karena sesuai dengan amanat Undang-Undang (UU) Nomor 3 Tahun 2017 tentang Sistem Perbukuan untuk menumbuhkembangkan literasi masyarakat dan membantu wilayah-wilayah yang susah dijangkau. Melalui program pengiriman buku ke wilayah 3T diharapkan para peserta didik dan saudara-saudara kita akan meningkat minat dan kemampuan bacanya,” jelas Dadang pada Pencanangan Buku Literasi dan Lokakarya Gerakan Literasi Nasional di Hotel Kartika Chandra, Jakarta, Senin 04 November 2019.

Sebagai bangsa yang besar, Dadang mengatakan, Indonesia harus mampu mengembangkan budaya literasi sebagai prasyarat kecakapan hidup abad ke-21 melalui pendidikan yang terintegrasi, mulai dari keluarga, sekolah, sampai masyarakat.

Selama ini masyarakat Indonesia sebagian besar telah mengenal enam jenis literasi dasar, yaitu literasi baca-tulis, numerasi, sains, digital, finansial, serta budaya dan kewargaan. Dalam sejarah peradaban manusia, membaca dan menulis merupakan literasi yang dikenal paling awal oleh manusia. Membaca dan menulis termasuk literasi fungsional yang berguna besar dalam kehidupan sehari-hari. Membaca merupakan kunci untuk mempelajari segala ilmu pengetahuan, termasuk informasi dan petunjuk sehari-hari yang berdampak besar bagi kehidupan. Dengan memiliki kemampuan membaca dan menulis, seseorang dapat menjalani hidupnya dengan kualitas yang lebih baik,” jelasnya.

Sejalan dengan itu, Dadang melanjutkan, gerakan literasi nasional merupakan upaya untuk memperkuat sinergi antarunit utama pelaku gerakan literasi dengan menghimpun semua potensi dan memperluas keterlibatan publik dalam menumbuhkembangkan dan membudayakan literasi di Indonesia.

Gerakan literasi tidak hanya menjadi tanggung jawab pemerintah, tetapi juga tanggung jawab semua pemangku kepentingan termasuk dunia usaha, perguruan tinggi, organisasi sosial, pegiat literasi, orang tua, dan masyarakat. Oleh karena itu, pelibatan publik dalam setiap kegiatan literasi menjadi sangat penting untuk memastikan dampak positif dari gerakan peningkatan daya saing bangsa,” paparnya.

Direktur Jenderal (Dirjen) Pendidikan Anak Usia Dini dan Pendidikan Masyarakat (PAUD dan Dikmas), Harris Iskandar mengatakan gerakan literasi nasional adalah upaya untuk mendukung inisiatif dan peran keluarga dalam meningkatkan minat baca anak melalui pembiasaan di rumah, di satuan PAUD dan masyarakat. Tujuannya membiasakan orang tua membacakan buku bersama anak di rumah, mempererat hubungan sosial emosi antara orang tua dan anak, menumbuhkan minat baca anak sejak dini, serta tumbuhnya generasi cinta baca dan tingginya tingkat literasi bangsa.

Keluarga sangat berperan dalam proses literasi karena dari keluargalah proses pendidikan baik langsung maupun tak langsung diperoleh. Melalui keluarga pula anak akan mengenal dunia sekitar dan pola pergaulan yang akan membentuk pola kepribadian anak,” katanya.

Sekretaris Badan Pengembangan Bahasa dan Perbukuan, Abdul Khak mengatakan, untuk penguatan bahan bacaan, pada tahun 2019 GLN melaksanakan pencetakan dan pengiriman 2.402.320 eksemplar buku dari 60 judul bahan bacaan literasi ke 47.678 sekolah di berbagai jenjang, 658 Taman Bacaan Masyarakat (TBM), serta 40 perpustakaan yang berada di daerah 3T yang tersebar di 27 provinsi. Buku-buku literasi terbitan Pusat Pembinaan Bahasa dan Sastra ini telah melalui tahap seleksi dan uji kelayakan buku oleh Pusat Perbukuan.

Oleh karena itu, muatannya telah sesuai dengan standar, serta mengandung konten yang mampu menumbuhkan budi pekerti siswa, seperti buku cerita anak atau dongeng lokal, buku biografi inspiratif tentang tokoh lokal atau anak bangsa yang berprestasi, dan buku sejarah yang menebalkan rasa cinta tanah air,” ujarnya.

 

DORANG

0 Reviews

Write a Review

Read Previous

Kombes Jules A Abast Jabat Kabid Humas Polda Sulut

Read Next

Berkenalan di Facebook, Theo Setubuhi Pacarnya

Leave a Reply