Sarongsong, Negeri Legenda yang Hilang

Majoor Herman Carl Wawo Roentoe

INGIN ARTIKEL DIBACAKAN: https://publikreport.com

Oleh: Adrianus Kojongian

SARONGSONG di Kecamatan Tomohon Selatan Kota Tomohon pernah berbentuk Balak dan Distrik tersendiri sampai tahun 1881. Sisa-sisanya sekarang hanyalah Kelurahan Lansot dan Tumatangtang, sebagai bekas ibukota. Juga negeri-negerinya yang dimasa lalu mencakup Lahendong, Pinaras, Tondangow, ditambah Kampung Jawa, sekarang kelurahan-kelurahan masuk Kecamatan Tomohon Selatan. Berikut Rambunan serta Sawangan yang sekarang tergabung ke Sonder Kabupaten Minahasa.

Kota Balak lalu Distrik Sarongsong mengenal dua lokasi bekas pemukiman tua, sebelum berada di tempatnya sekarang. Masing-masing: Tulau dan Amian-Nimawanua. Dr.J.G.F.Riedel menulis Tulau didirikan oleh Tonaas Tumbelwoto yang datang dari Meiesu (Meyesu, Kinilow lama). Kemudian dari Tulau, Walean mendirikan negeri dekat Tulau bernama Kuhun, karena lokasinya dipenuhi semak-ilalang.

Cucu-cucu Walean bernama Sumakul, Rarakotan, Tumurang dan Mandagi membuka dua negeri lain yang diberi nama Pinangkeian dan Koror. Negeri-negeri inilah yang membentuk Pakasaan Sarongsong pertama. Lokasi perkebunan bernama Toungkuow, sekitar 4,5 kilometer sebelah barat Tumatangtang sekarang dihadis pula pernah menjadi pemukiman penduduk Sarongsong purba. Dinamai Toungkuow, karena penduduk saling menyapa dengan meniru bunyi burung Kuow. Bilamana yang disapa tidak menyahut dengan cara dan tanda sama, dia dianggap musuh dan dibunuh.

Sarongsong yang sesuai tradisi didirikan Dotu Manarongsong atau Sumarangsang, salah seorang putra Toar-Lumimuut, berpusat sejak awal di Tulau, kini sekitar 2,5 Km dari Tumatangtang. Di Tulau ini masih terdapat situs-situs tua seperti Lezar =halaman atau lapangan), dan didekatnya ada Watu Penginaleian terdiri dua batu tegak (menhir), tempat pemujaan dulu kepada Empung.

Ibukota Balak Sarongsong di situ kemudian ditinggalkan, karenanya disebut Tulau yang berarti tertinggal. Penafsiran Tulau juga dari cerita kepahlawanan Tonaas Kalele, Sumendap serta putra Sumendap yang juga bernama Sumendap. Ketiganya selalu mengalahkan para penyamun yang menyerang Sarongsong, dimana musuh-musuh tertinggal tak dapat meloloskan diri, dibunuh dan dipancung kepalanya.

Penduduk kemudian memusatkan pemukimannya di Amian, sebelah utara Tulau, yang sekarang dinamai Nimawanua, kurang lebih 3 Km dari Tumatangtang dan 1,5 Km dari Lansot. Menurut tuturan, pemindahan tersebut terjadi gara-gara letusan gunung berapi. Sebuah versi, ketika itu tidak terjadi perpindahan negeri Sarongsong. Tapi, hanya sekedar perluasan wilayah. Pemukimannya melebar dari Tulau hingga ke Amian- Nimawanua yang sejak awal telah menjadi lokasi pekuburan purba Sarongsong.

Yang pasti, nama negeri, pakasaan dan kemudian balaknya telah dikenal dengan nama Sarongsong. Penyebutan Tulau, timbul kemudian, untuk menyebut kota Sarongsong lama setelah ditinggalkan di tahun 1845. Pater Blas Palomino di tahun 1619 menulisnya Seronson. Demikian pula Gubernur Dr.Robertus Padtbrugge di tahun 1682, bahkan menyebut penduduknya sebanyak 80 awu.

Carl Herman Waworuntu

Asal nama Sarongsong tersebut telah tercetus sejak para leluhur awal membangunnya, dari sinarongsongan, berarti pancuran air, bahkan dari nama Dotu Sumarangsang pula. Soal sinarongsongan, ada kisah rakyat yang lain, timbul pula dari pancuran padi (sinarongsongan um wene). Kisah mana dikaitkan dengan pencurian dan baku barter benda sakti negeri bernama Kelana Mahuang dengan tanaman padi oleh orang kalahwakan (dunia tengah), yakni para Opo.

Seperti nasib kota-kota tua lain di Tomohon, Tulau dan Amian-Nimawanua, lokasi pemukiman Sarongsong lama, hancur ketika gempa bumi bulan Februari 1845.

Dikisah sejumlah tetua Sarongsong, mantan Patih Arie M.Mandagi dan Joutje Kambey, gempabumi berlangsung selama sembilan hari terus-menerus, baik siang dan malam. Penduduk sengsara sekali. Rumah-rumah besar dan bertiang tinggi roboh. Mereka ada yang lari mengungsi. Untuk memasak mereka terpaksa menggunakan bambu (lulut) dan minum pun memakai zaun dari bambu.

Setelah keadaan mulai reda, dan dianjurkan Belanda, maka Sarongsong yang ketika itu diperintah Kepala Balak Mayoor Waworuntu (dibaptis Kristen oleh Ds.L.J.van Rhijn tanggal 11 April 1847, memakai nama Herman Carl Wawo-Roentoe) meninggalkan negeri lama, pindah dekat jalan umum yang waktu itu telah dibuka beralas batu oleh Gubernemen Belanda. Tanggal 1 Januari 1846 dibawah pimpinan Kepala Balak Waworuntu dan wakilnya Kumarua (Hukum Kedua) bernama Kalalo,penduduk pindah menuju ke tempat barunya.

Dikisahkan, sebelumnya, sesuai tradisi leluhur diadakan foso negeri, yakni Tumalinga si Kooko (mendengar burung), dengan Menengoh dalam tarian Maengket. Di Watu Lelepouan, di bawah sebatang pohon Tumatangtang, sekarang kurang lebih 200 meter dari gedung Gereja GMIM Syalom Tumatangtang, dilaksanakan upacara pendirian Sarongsong baru.

Burung Manguni menyahut dan memberi pertanda bagus. Burung tersebut lalu terbang diikuti rombongan penduduk. Awalnya, konon, burung itu bertengger di pohon Lansot (langsat). Lalu terbang ke arah selatan, hinggap di pohon Tumatangtang. Kemudian, ke pohon Koror, singgah (Pinangkeian), dan terbang terus ke ujung (Kapoya). Maka, segera berdiri lima negeri baru dalam Balak Sarongsong, setelah dilengkapkan segala foso negeri dan kelengkapannya.

Lima negeri baru ini, masing-masing: Lansot, Tumatangtang. Koror, Pinangkeian dan Kapoya. Ke lima negeri inilah yang membentuk ibukota Balak lalu Distrik Sarongsong hingga tahun 1881, ketika Kepala Distrik Mayoor Zacharias Waworuntu diberhentikan, dan Sarongsong digabungkan dengan Distrik Tomohon, menjadi Distrik Tomohon- Sarongsong. Sarongsong tinggal diperintah seorang Hukum Kedua, sampai benar-benar dihilangkan tahun 1908, ketika distrik gabungan tersebut dihapus, tertinggal nama sebagai Distrik Tomohon saja.

Meski demikian, pemindahan Sarongsong dari Tulau-Amian-Nimawanua diduga telah berlangsung sejak awal abad ke-19, diawali Tumatangtang. Salah seorang tokoh Sarongsong terkenal di tahun 1820-an dan 1830-an adalah Kapitein Mandagi yang ketika meninggal diwarugakan di dekat rumahnya di Tumatangtang.

Hukum Majoor Kepala Lontoh Tuunan Mandagi

Kapitein Mandagi merupakan salah seorang wakil dari Mayoor Waworuntu, yang memimpin pasukan Tulungan berasal Balak Sarongsong. Kuburnya sekarang berada di dekat Gereja Katolik Sarongsong. Selain itu, ada versi cerita, negeri Pinangkeian dan Koror, telah sejak awal berdiri terpisah dengan Tulau. Kedua negeri ini merupakan negeri-negeri awal Sarongsong. Ada juga kontroversi berapa negeri yang membentuk Sarongsong baru di tahun 1845.

Pendapat lain mengungkap ketika itu Sarongsong terbangun dari tujuh negeri sebagai ibukota, yakni: Pinangkeian, Tumatangtang, Koror, Lansot, Regesan, Wuwuk dan Kapoya. Namun, Arie Mandagi, mantan Hukum Besar Tomohon dan Wakil Kepala Daerah Minahasa (KDM) masa Permesta menyebut negeri Kapoya dan Wuwuk, adalah negeri yang didirikan orang Sarongsong di wilayah Tontemboan, yang kemudian digabungkan ke Distrik Kawangkoan dan Rumoong. Kapoya belakangan masuk Kecamatan Tareran.

Dan setelah Minahasa Selatan berbentuk Kabupaten menjadi desa di Kecamatan Suluun-Tareran. Sementara Wuwuk masuk Kecamatan Tareran. Dr. Pieter Bleeker dalam buku Reis door de Minahassa en den Molukschen Archipel (1856) mengungkap di akhir tahun 1852, Distrik Sarongsong dibentuk oleh negeri Pinangkeian (berpenduduk 244 jiwa), Tumatangtang (140), Koror (146), Lansot (136), Regesan (139), Wuwuk (ditulis Wiwoek, 142), dan Kapoya (132). Negeri lain dalam Distrik Sarongsong adalah Lahendong (421 jiwa), Tondangow (219), Pinaras (209) dan Rambunan (192).

Belakangan nanti pemukim dari Sarongsong mendirikan Sawangan. Wuwuk sendiri dari catatan Dr.Bleeker (ditulis Woewoek) berbeda dengan Wiwuk Sarongsong, masuk Distrik Kawangkoan. Yang pertama hilang adalah Kapoya, Wuwuk dan Regesan, karena namanya tidak disebut lagi oleh Nicolaas Graafland dalam bukunya Inilah Kitab Deri Hal Tanah Minahasa di tahun 1874. Penghapusan besar-besaran terjadi di tahun 1881 ketika Distrik Sarongsong dihilangkan, digabung Tomohon. Bekas ibukotanya tinggal tersisa negeri Tumatangtang dan Lansot. Kapoya dan Koror digabung dengan Tumatangtang, sementara Pinangkeian digabung ke Lansot.

Tinggalan kota tua Sarongsong masih cukup banyak. Di Amian-Nimawanua yang bersambungan dengan Tulau berada kumpulan waruga. Di tahun 2000 ada sebanyak 39 buah waruga dalam kondisi yang terlantar dan rusak parah, karena penutupnya rata- rata sudah dibuka, diambil isinya. Di sini, hingga tahun 1985 banyak ditemukan sisa porselin, termasuk gerabah lokal. Bahkan juga sering ditemukan pakureen, berisi kerangka bayi dan anak-anak. Tokoh penting yang diwarugakan di Amian-Nimawanua dikenal antaranya Sumendap bersama anaknya yang juga bernama Sumendap. Begitu juga Lontoh Tuunan Mandagi dan anak serta penggantinya Hukum Mayoor Rondonuwu serta cucunya Mayoor Tongkotou dihadis diwarugakan di situ. Sayang sekali, sejak tahun 2009 waruga- waruga tua Sarongsong di Amian-Nimawanua semakin hancur.

Di dekat Amian-Nimawanua juga berada lokasi dinamai Zolo (Solo), tempat pengambilan damar untuk penerangan. Lalu ada Apela, tempat pembuatan dan pengambilan waruga.

Banyak legenda tertinggal dari negeri yang tinggal kenangan ini. Sejumlah lokasi lain merujuk ke kisah-kisah pertumbuhan Sarongsong, juga kisah keperkasaan tokoh- tokohnya tempo dulu. Lokasi yang hingga sekarang dinamai Kinupitan di dekat Tulau, dikaitkan dengan legenda Tonaas Kalele, cucu Kaleletua dan anak Karwur dengan Pasiyowan terjepit batu-batuan. Kisahnya, dia melanggar kaposonan, tewas karenanya, sehingga kemudian ia bergelar Kalele Kinupit. Lontoh Tuunan dari kutipan Graafland, adalah keturunan keenam dari Kalele Kinupit. Di dekatnya lagi, ada Atep Tambelang, tempat tonaas-tonaas Sarongsong dulu mengumpul mayat lawan yang dibunuh. Konon, batok kepala kayauan dibuat tempat minum, sedang rangkanya ditumpuk menjadi atap rumah kediaman.

Majoor Herman Carl Wawo Roentoe

Di lokasi sekarang Kelurahan Lansot, yakni di dekat SMP Negeri III Tomohon, ada tempat terkenal dengan sebutan Kiniaran Kasili. Lokasi mana berkaitan legenda di masa pemerintahan Kepala Balak Mayoor Tongkotou, anak Hukum Mayoor Rondonuwu Lontoh dan cucu Hukum Mayoor Kepala Lontoh Tuunan Mandagi.

Saat itu, ditemukan ikan sogili raksasa dari sungai rawa Wune yang membawa musibah besar bagi penduduk Sarongsong. Konon, sogili tersebut dibunuh dan penduduk memakannya, tapi tidak habis. Sisanya membusuk dan berulat. Ulat-ulat begitu banyak hingga mengganggu di mana-mana, termasuk peralatan makanan. Baru dari cara Marages atau Menombari yang dipimpin Walian wanita, penduduk berhasil mengusir ulat-ulat tersebut, memakai sapu lidi dan tumbuhan bunga pagar (zeze wanua, rerehan). Ulat-ulat diusir hingga di batas negeri (akazan um wanua atau sela um wanua).

Legenda ini berujung ke kisah bahwa sungai Wune airnya kerapkali berwarna merah darah. Lokasi bersejarah dengan legenda Sarongsong lainnya adalah Kolombawi, tempat perburuan dan penangkapan babi hutan tempo dulu. Lalu ada lokasi Maame, dipercayai menjadi tempat leluhur mendengarkan bunyi burung Manguni, pertanda orang bakal meninggal. Juga ada Kakayongen, yang konon menjadi lokasi khusus para pengayau berpesta merayakan kemenangannya. Lalu Tambariri, dipercayai tempat kediaman

Dotu Tambariri, bahkan diduga menjadi lokasi awal para penduduk Balak Tombariri dibawah Kaawoan alias Kauwan sebelum berpindah ke Katingolan Woloan.

Tinggalan lebih muda juga adalah Watu Lelepouan di dekat gedung gereja GMIM Syalom Tumatangtang sekarang. Sisa dua batu tegak di situ menjadi lokasi upacara pendirian Sarongsong di tahun 1845. ADRIANUSKOJONGIAN.BLOGSPOT.co.id

0 Reviews

Write a Review

Read Previous

Aneka Resep Olahan Tahu Unik

Read Next

Sempat Dikritik, Rio Ferdinand Nyatakan Serius Tekuni Tinju

Leave a Reply