Sindikat Penipuan Undian Berhadiah Dibekuk di Bolmong

Darmawan, salah seorang terduga komplotan sindikat penipuan berhadiah saat diamankan petugas Reskrim Polres Bolmong untuk dilakukan pemeriksaan.

LOLAK, publikreport.com – DL alias Darma (40), warga Makassar Provinsi Sulawesi Selatan diamankan Satuan Reserse Kriminal (Reskrim) Kepolisian Resort (Polres) Bolaang Mongondow (Bolmong), Senin 15 Januari 2018, di Desa Lalow Kecamatan Lolak Kabupaten Bolmong Provinsi Sulawesi Utara (Sulut). DL diduga merupakan anggota komplotan sindikat penipuan dengan modus undian berhadiah. Turut diamankan sejumlah barang bukti berupa buku tabungan dan uang jutaan rupiah.

Dari pemeriksaan penyidik kepolisian, DL mengaku membuat selebaran kupon yang berisi pemberitahuan menang undian berupa hadiah mobil atau motor dari sebuah produk.

“Kupon tersebut kemudian disebar,” kata Kepala Satuan (Kasat) Reserse Kriminal (Reskrim) Polres Bolmong, Ajun Komisaris Polisi (AKP) Hanny Lukas.

BACA JUGA: Hukumnya Mengadakan Arisan Berantai

Masyarakat yang mendapat kupon, nantinya terpikat dengan hadiah menggiurkan itu. Kebanyakan korban akan menghubungi nomor (telepon) kontak yang ada di kupon. Nomor kontak itulah nomor pelaku yang kemudian akan menggiring korban untuk mengirimkan sejumlah uang ke nomor rekening pelaku, dengan dalih biaya administrasi pajak pencairan hadiah ataupun lainnya.

“Setelah korban mengirimkan uang ke rekening pelaku, saat itu juga pelaku membuang nomor handphonenya. Sehingga korban yang sadar tertipu tidak dapat menghubungi pelaku kembali. Apalagi lapor polisi,” jelas Hannya.

Selain modus undian, Hanny mengatakan sindikat ini kerap menjalankan aksi penipuan lewat informasi  kecelakaan yang meminta uang tebusan kepada korban yang ditelepon atau tertangkap Narkoba kemudian meminta sejumlah uang ditransfer ke rekening khusus.

“Komplotan sindikat ini berasal dari Makassar Sulawesi Selatan. Jaringannya ada disejumlah wilayah,” ungkap Hannya.

BACA JUGA: KemenPAN&RB Imbau Waspadai Hoax Kumpulan Soal Tes CPNS 2018

Komplotan ini, Hanny melanjutkan, bekerja sangat profesional dengan berbagi peran dan persentase hasil. Peran mereka antara lain adalah kordinator, customer service dan penyebar kupon yang masing-masing mendapat bagian.

Tersangka, Hanny menambahkan, akan dijerat pasal 378 dan pasal 55 KUHP dengan ancaman hukuman maksimal 4 tahun penjara.

BACA JUGA: Perlindungan Hukum Bagi Driver Ojek Online

Sementara DL usai diperiksa mengaku jika aksi yang dilakukan sudah berlangsung satu bulan bersama rekannya. Dalam menjalankan aksi mereka diperintahkan membuat rekening dengan kartu ATM (Automatic Teller Machine) untuk transaksi.

“Isteri saya tidak mengetahui pekerjaan saya ini. Saya mendapat bayaran Rp10 ribu dari bos yang tinggal di kampong,” ujarnya menundukan kepala.

 

TOTABUAN.co

0 Reviews

Write a Review

Read Previous

Pemkot Kotamobagu Berencana Usulkan Tiga Formasi CPNS

Read Next

Petani Kakaskasen dan Wailan Minta Jalan Ini Diaspal

Leave a Reply