Tahun Politik

Ilustrasi.

Ilustrasi.

INGIN ARTIKEL DIBACAKAN:

Wajah cantik dan tampan terpampang dibaliho-baliho -berbagai ukuran- yang terpajang dan menghiasi tempat-tempat strategis. Berbagai pose lengkap dengan senyum indah ditampilkan pada poster-poster yang diedit oleh para desain grafis atau mereka yang mahir menggunakan aplikasi photoshop maupun aplikasi edit foto lainnya.

Pemandangan seperti ini biasanya akan tersaji (makin ramai) pada suatu daerah (wilayah desa/kelurahan, kecamatan, kota/kabupaten) ketika menjelang tahun politik atau Pemilihan Umum (Pemilu). Nah, tahun 2020 ini, merupakan tahun politik ‘Pemilihan Umum Kepala Daerah (Pilkada) serentak’. Sebenarnya bukan hal baru jika melihat poster/baliho terpampang di berbagai tempat, apakah strategis atau tidak. Ya, para pemimpin daerah atau tokoh-tokoh lainnya kerap memajang poster, baliho sebagai ucapan menyambut, memperingati hari-hari tertentu.

Karena tahun 2020 ini merupakan tahun politik, yakni Pilkada serentak, wajah-wajah manis lengkap dengan senyum yang indah dengan berbagai tagline dibuat sedemikian rupa agar masyarakat mengenal mereka. Tak hanya melalui poster/baliho, mereka yang berkeinginan menjadi kepala daerah ramai-ramai mencitrakan diri melalui media massa (cetak, online, radio dan televisi maupun oleh buzer-buzer melalui media sosial). Berbagai kelebihan diangkat, dikampanyekan tim masing-masing.

Seakan tak cukup, para kandidat kepala daerah ini juga rajin bertemu dengan para tokoh masyarakat, agama, adat bahkan terjun langsung berbaur dengan masyarakat di lapisan-lapisan paling bawah. Di tahun politik ini seakan tidak ada gap, semua sama. Ya, karena di tahun politik ini, rakyat adalah segala-galanya. Rakyat adalah pemilik suara yang menentukan siapa yang bakal menjadi pemimpin di daerah masing-masing.

Di tahun politik ini, rakyat disuguhkan visi, misi dan program lengkap dengan bumbu-bumbu permainan, celotehan politik praktis. Menu utamanya adalah semua untuk kesejahteraan rakyat.

Di tahun politik ini pula biasanya masyarakat terkotak-kotak (pada dukungan/pilihan kandidat masing-masing). Rakyat yang tidak tahu/tidak mengerti politik praktis diajak/diajari para elite politik untuk bermain politik praktis. Seakan sudah ‘dicuci otak’ mereka dengan fanatik mengagung-agungkan calonnnya. Hal ini sering menimbulkan bentrokan-bentrokan kecil, baik di dalam rumah, suami isteri, orang tua dan anak, kakak beradik, sanak keluarga, kenalan dan kerabat lainnya.

Di tahun politik ini, rakyat dari berbagai elemen dapat dengan mudah bertemu dan berbincang dengan kandidat jagoannya, atau bahkan kandidat saingan. Sekat-sekat elite dan rakyat biasa, rakyat jelata seakan tidak ada.

Namun, sekat tersebut biasanya akan muncul kembali setelah tahun politik menghasilkan pemenang, kepala daerah. Apalagi jika pemenang Pilkada ini sudah dilantik dan bertugas.

Rakyat pendukung terkesan sulit untuk bertemu untuk berbincang dengan jagoannya ketika Pilkada yang telah menyandang status kepala daerah. Apalagi jika bukan pendukung. Heheheheee….

Hanya kaum tertentu yang bisa berdialog pilihannya. Sekat-sekat mulai tampak. Sang pilihan yang telah menyandang status kepala daerah lebih dekat dengan para kaum elite. Tak lagi turun langsung hingga ke lapisan masyarakat paling bawah. Apakah sibuk?

Masyarakat yang terkotak-kotak ketika Pilkada, biasanya tidak dapat dipersatukan ketika sudah ada kepala daerah terpilih. Sang kepala daerah bersama para elitenya lupa melihat dan mempersatukan pendukung dan tidak pendukung ketika Pilkada. Apakah lupa?

Semoga di tahun politik 2020 ini, dapat terpilih pemimpin daerah yang benar-benar akan melayani dan mempersatukan rakyatnya. Bukan pemimpin yang hanya tahunya berucap, lalu melupakannya. ***

 

0 Reviews

Write a Review

Read Previous

Cuaca Buruk, Babinsa Diperintahkan…

Read Next

Daftar URL Bermuatan Pelanggaran HKI

Leave a Reply