PUBLIKREPORT.com

Tantangan Pelaku Usaha Perempuan di Tengah Pandemi Covid-19

Webinar Perempuan Pelaku Usaha Mikro Kecil, Inovasi di Masa Pandemi Covid-19 yang diselenggarakan Kementerian PPPA bersama dengan Yayasan Pemberdayaan Perempuan Kepala Keluarga (PEKKA) menyambut Peringatan Hari Ibu (PHI), 10 September 2020.

Webinar Perempuan Pelaku Usaha Mikro Kecil, Inovasi di Masa Pandemi Covid-19 yang diselenggarakan Kementerian PPPA bersama dengan Yayasan Pemberdayaan Perempuan Kepala Keluarga (PEKKA) menyambut Peringatan Hari Ibu (PHI), 10 September 2020.

“Selama pandemi, sekitar lima bulan terakhir, produksi kami menurun dan pendapatan berkurang. Hal ini karena keterbatasan kami untuk melakukan pertemuan. Namun, di satu sisi, karena masyarakat sekitar takut untuk mengunjungi Puskesmas (Pusat Kesehatan Masyarakat) ketika sakit, maka mereka membeli minyak kelapa murni produksi kami untuk obat penyakit dalam. Sudah 40 botol yang dipesan. Akhirnya, beberapa anggota kami memasarkan minyak kelapa murni kepada masyarakat sekitar sebagai obat penyakit dalam. Selama ini, koperasi PEKKA juga memiliki peran untuk meminjamkan modal usaha”


Christina Pontolondo, Bendahara Serikat PEKKA Kabupaten Bolmong.


JAKARTA, publikreport.com – Pandemi Covid-19 (Coronavirus Disease 2019) memberikan dampak cukup signifikan bagi para pelaku usaha mikro dan kecil yang digeluti perempuan. Masalah yang banyak dihadapi, diantaranya penurunan penjualan, kesulitan bahan baku, distribusi terhambat, dan produksi menurun. Penjualan secara online dinilai merupakan salah satu alternatif solusi meningkatkan penjualan hasil produksi di masa pandemi ini.

“Dengan adanya permasalahan yang dialami perempuan pelaku usaha selama pandemi, maka sebaiknya kita juga menerapkan sinergi dengan melibatkan lima pihak terkait, yakni pemerintah, lembaga masyarakat, dunia usaha, akademisi dan media massa, agar dapat menjadi solusi dan mendongkrak semangat bagi para pelaku usaha perempuan selama pandemi,” kata Deputi Bidang Kesetaraan Gender Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (PPPA), Agustina Erni dalam serial webinar Perempuan Pelaku Usaha Mikro Kecil, Inovasi di Masa Pandemi Covid-19 yang diselenggarakan oleh Kementerian PPPA bersama dengan Yayasan Pemberdayaan Perempuan Kepala Keluarga (PEKKA) dalam rangka menyambut Peringatan Hari Ibu (PHI), 10 September 2020.

Semua pihak, menurut Agustina, harus bersama-sama memetakan dan menyinergikan teknologi dan keahlian yang dibutuhkan. Teknologi mampu dijadikan sebagai sebuah solusi dan inovasi bagi suatu permasalahan, misalnya untuk merespon kelangkaan bahan baku. Penjualan secara online juga merupakan salah satu alternatif solusi untuk meningkatkan penjualan hasil produksi di masa pandemi.

Berdasarkan data UKM (Usaha Kecil dan Mikro) Indonesia pada 2020 para pelaku usaha yang masih bertahan dan bahkan mengalami peningkatan omset adalah mereka yang menggunakan metode usaha online. Agustina berharap ke depan pelatihan online bagi perempuan pelaku usaha, baik pelatihan terkait pemasaran, proses produksi, dan lain-lain semakin diperluas jangkauannya. Namun, permasalahan sarana juga menjadi penting, di antaranya ketersediaan sinyal dan gawai.

Dinas PPPA di daerah, Agustina berharap, dapat melakukan pemetaan terkait perempuan pelaku usaha yang ingin berpartisipasi mengikuti pelatihan online.

Dalam kesempatan ini, Deputi Direktur Pengorganisasian Komunitas PEKKA, Romlawati mengapresiasi kerja sama yang telah dilakukan Kementerian PPPA dan PT XL Axiata terkait peluncuran Kelas Inkubasi Sispreneur yang ditujukan bagi kalangan perempuan pelaku usaha mikro.

“Kelas Inkubasi Sispreneur sangat bermanfaat karena pelaku usaha perempuan diberikan pendampingan dan pelatihan secara intensif. Yayasan PEKKA juga telah mendirikan PEKKA-Mart di beberapa daerah yang berperan sebagai pusat grosir pengadaan bahan pokok dan bahan produksi bagi anggota PEKKA. Selain itu, Yayasan PEKKA juga mengadakan koperasi simpan pinjam yang selama masa pandemi melakukan relaksasi pinjaman terhadap anggotanya. Sejauh ini, koperasi simpan pinjam tersebut telah melayani lebih dari 30.000 anggota PEKKA di 20 provinsi,” ungkapnya.

Manfaat sinergi antara pemerintah dengan Yayasan PEKKA juga dirasakan oleh kelompok usaha perempuan di Kabupaten Bolaang Mongondow (Bolmong), Provinsi Sulawesi Utara (Sulut).
Bendahara Serikat PEKKA Kabupaten Bolmong, Cristina Pontolondo mengatakan selama ini, usaha para kelompok usaha perempuan dalam memproduksi minyak kelapa murni atau Virgin Coconut Oil (VCO) mendapat dukungan dari pemerintah desa dan Yayasan PEKKA. Dukungan tersebut, diantaranya melalui pemberian modal usaha dan pelatihan produksi minyak kelapa murni.
“Selama pandemi, sekitar lima bulan terakhir, produksi kami menurun dan pendapatan berkurang. Hal ini karena keterbatasan kami untuk melakukan pertemuan. Namun, di satu sisi, karena masyarakat sekitar takut untuk mengunjungi Puskesmas (Pusat Kesehatan Masyarakat) ketika sakit, maka mereka membeli minyak kelapa murni produksi kami untuk obat penyakit dalam. Sudah 40 botol yang dipesan. Akhirnya, beberapa anggota kami memasarkan minyak kelapa murni kepada masyarakat sekitar sebagai obat penyakit dalam. Selama ini, koperasi PEKKA juga memiliki peran untuk meminjamkan modal usaha,” jelasnya.

0 Reviews

Write a Review

Read Previous

Residivis Curanmor Lintas Provinsi Tertangkap

Read Next

Pilkada. Sejumlah Perangkat Kelurahan Mulai Merasa Terintimidasi