Wilayah Bukit Inspirasi Awal Mula Peradaban Minahasa?

Johny Sondak, Tonaas Wangko Kolano MTS

Johny Sondak, Tonaas Wangko Kolano MTS

INGIN ARTIKEL DIBACAKAN: https://publikreport.com

…Sumendap mempersunting Lumimuut di pahzuwengan, dimana berada sebuah batu bergaris atau watu kinaris yang disebut watu wulurmahatus in tana Malesung. Di atas watu kinaris itu Lumimuut berdiri dipersunting Sumendap menjadi pasangan suami isteri.

TOMOHON, publikreport.com – Tonaas Wangko Kolano Minaesaan Tombulu Sulut (MTS), Johny Sondak mengklaim peradaban manusia pertama Minahasa, Tou Makalesung, di Tombulu. Kisah ini menurutnya berawal dari kedatangan sekelompok orang melalui pantai barat Minahasa, daratan tanahwangko (tanah besar), kemudian mereka naik ke dataran tinggi yang ada disebelah timur yang disebut Lokon Telu, yakni antara pegunungan Empung, Lokon dan Tatawiran. Kelompok ini dipimpin Walian Tua, Karema dan Lumimuut

Sambil menaiki dataran tinggi itu, Johny mengisahkan, Karema dan Lumimuut berkata,”i yayo i yayo wana se lokon telu”. Hingga mereka tiba dan tinggal di wilayah yang disebut mahwatu itu beberapa waktu lamanya.

“Disebut mahwatu karena banyak buah watu. Tempat itu juga disebut tuurz in tana malesung,” kata Johny.

BACA JUGA: Nawanua, Negeri Tua Kakaskasen

Suatu saat, Johny menceritakan, Karema mendapat petunjuk apabila kelompoknya harus melanjutkan perjalanan menuju mataair yang dekat pohon besar.

“Wilayah itu adalah Wailan bersebelahan dengan perkampungan Kinaskas (sekarang Kakaskasen). Mereka tinggal disitu beberapa waktu lamanya,” kisahnya.

Sementara bermukim di Wailan, Johny melanjutkan, Karema kembali mendapat petunjuk dari Opo Empung Wailan Wangko melalui bunyi seekor Burung Manguni. Rombongan harus meninggalkan Wailan menuju Gunung Masarang.

“Anjuran atau perintah dari Karema untuk melanjutkan perjalanan ditolak sebagian orang. Mereka membantah    tidak mau menuruti. Kelompok ini kemudian bergegas pergi ke kelong yang berada di bawah kaki Gunung Mahawu,” ungkapnya.

BACA JUGA: ‘Pabrik-pabrik’ Waruga di Tomohon Tempo Dulu

Sedangkan, Karema dan pengikut setianya, menurut Johny, pergi menaiki Gunung Masarang (disebut Masarang karena berbentuk seperti sarang ayam). Di atas gunung inilah kemudian kelompok ini tinggal. Sayangnya, aktivitas mereka di sana tidak lama. Mereka harus pindah karena terjadinya bencana alam, Gunung Mahawu meletus, dengan mengeluarkan lumpur dingin dan bebatuan.

“Kelompok orang yang melawan perintah Karema tertimbun batu dan lumpur dingin dari letusan Gunung Mahawu. Tidak ada yang selamat. Sehingga tempat itu disebut kinelongan asal kata kelong yang berarti orang-orang yang melawan perintah atau pembangkang,” cerita Johny.

BACA JUGA: Tomohon, Kota Tua Tanah Minahasa

Setelah aktivitas vulkanik Gunung Mahawu mereda, Johny menuturkan, lagi-lagi, Karema mendapat petunjuk, yakni mereka harus menuju ke pahzuwengan (wilayah yang saat ini berada di Bukit Inspirasi Kakaskasen). Dari pahzuwengan ini mereka melihat Gunung Empung dan Lokon yang mirip sebuah lesung.

“Ketika melihat Gunung Empung dan Lokon, tanah yang mereka lalui kemudian dinamakan Malesung, asal kata lesung artinya orang-orang yang empunya lesung atau disebut Tou Malesung,” jelasnya.

Gunung Lokon.
Gunung Lokon.

Tidak jauh dari pahzuwengan ini, yakni disebelah utara, Johny mengatakan, terdapat Sungai Lembuyang. Disanalah menjadi tempat mandi Lumimuut.

“Di saat Lumimuut sedang berada di Sungai Lembuyang, tiba-tiba datang angin kencang yang membawa seorang pria perkasa bernama Sumendap. Sumendap mengambil wuyang atau pakaian penutup milik Lumimuut yang berada di atas batu besar. Mereka saling mengenal dan jatuh cinta,” kisahnya.

BACA JUGA: Katingolan, Kota Tua Tombariri dan Woloan

Selanjutnya, Sumendap mempersunting Lumimuut di pahzuwengan, dimana berada sebuah batu bergaris atau watu kinaris yang disebut watu wulurmahatus in tana Malesung. Di atas watu kinaris itu Lumimuut berdiri dipersunting Sumendap menjadi pasangan suami isteri.

Lumimuut akhirnya mengandung dan melahirkan seorang anak laki-laki yang gagah perkasa dan diberi nama Toar, asal kata Thoureges artinya orang yang berasal dari angin.

“Watu kinaris adalah sebuah batu bergaris dari atas ke bawah menunjukkan gambaran perjalanan Wailan Tua Karena dan Lumiuut. Kemudian keturunan mereka berkembang biak. Lumimuut melahirkan dan membesarkan toar tidak jauh dari watu kinaris atau watu wulur mahatus in tana Malesung, tidak jauh dari watu pahzuwengan asal kata zuweng artinya tempat membakar, membuat asap untuk mengusir serangga.  Supaya Toar terlindungi,” papar Johny.

Tidak jauh dari watu pahzuwengan, yakni disebelah timur, Johny melanjutkan, terdapat sebuah lontang yang  menjadi tempat mandi Toar ketika masih bayi.

BACA JUGA: Sarongsong, Negeri Legenda yang Hilang

Wailan Tua Karema, Johny mengisahkan, kemudian mendapat petunjuk dari Opo Empung Walian Wangko, apabila mereka berdua harus mengelilingi tanah Malesung setelah Toar cukup dewasa.

Tiba waktunya, satu pergi ke arah utara dan satunya lagi ke arah selatan dengan membawa tongkat masing-masing. Tak disangka keduanya bertemu di antara sungai air dingin dan air panas di wilayah atau wanua bernama kilou-kilou, sekarang disebut Kinilow. Kedua tongkat dipertemukan, ternyata sudah tidak sama panjang lagi, pertanda bahwa mereka akan menjadi pasangan hidup dan berketurunan menyebar di seluruh tanah Malesung.

“Pahzuwengan itulah cikal bakal nama Minahasa. Disitulah Walian Tua Karema dan Lumumuut mencetuskan Malesung atau Maesa, Minaesa, Mahasa, Nimahasa hingga akhirnya menjadi Minahasa yang dipakai sampai sekarang ini,” papar Johny.

Pahzuwengan, menurut Johny, juga merupakan cikal bakal manusia pertama Minahasa yang kemudian berkembang dan berketurunan.

“Pahzuwengan merupakan sejarah awal peradaban Minahasa yang patut dan semestinya mendapat perhatian dari pemerintah. Pemerintah Kota Tomohon harus memperhatikan situs-situs tua disana untuk pelestarian cagar budaya, demi menunjang program pemerintah terutama di sektor pariwisata,” tambahnya. VERONICA DSK

 

0 Reviews

Write a Review

Read Previous

Balapan Liar Dikeluhkan Warga, Polisi Lakukan Hunting

Read Next

Lombok Dibangun Kembali

Leave a Reply