Kota Tomohon di Usia 17 Tahun Berotonom

Wilayah Kota Tomohon. (google)

Wilayah Kota Tomohon. (google)

INGIN ARTIKEL DIBACAKAN:

Senin 27 Januari 2020, Tomohon akan merayakan ulang tahun ke-17 menjadi kota otonom. Di usia ke-17 tahun ini, sudahkah masyarakat Kota Tomohon merasakan kemajuan dan kesejahteraan?

Tak dipungkiri Tomohon sejak menyandang status kota otonom pada 2013 silam, sangat berbeda saat masih berstatus kecamatan (salah satu kecamatan dari Kabupaten Minahasa). Salah satunya lalu lintas di pusat kota Tomohon yang kian ramai.

Mereka yang menjadi Walikota dan Wakil Walikota Tomohon silih berganti, semuanya dengan tugas politik dan pemerintahan yang diembannya. Mereka yang menyandang Walikota Tomohon dengan status berbeda-beda, ada yang Pelaksana Tugas (Plt), Penjabat (Pj), Pelaksana Harian (Plh) dan definitif hasil Pemilihan Umum Kepala Daerah (Pilkada).

Simon Boy Tangkawarouw, Walikota Tomohon pertama (Plt), dalam masa-masa kepemimpinannya menyiapkan para personil untuk mengisi struktur birokrasi di Kota Tomohon, perkantoran dan tugas lainnya, selain tentunya menjalankan tugas pemerintahan, pembangunan dan kemasyarakatan.

Pasangan Jefferson Soleiman Montesque Rumajar dan Syenny Watoelangkow adalah Walikota dan Wakil Walikota Tomohon pertama hasil Pilkada. Jefferson SM Rumajar atau akrab disebut Epe ini oleh banyak kalangan menyebutnya perintis pembangunan di Kota Tomohon (jalan-jalan, trotoar, drainase), dan pencetus Tomohon of Flower (ToF) yang kini menjadi Tomohon International Flower Festival (TIFF).

***

Tomohon ketika masih berstatus kecamatan sudah dikenal sebagai Kota Pendidikan, Kota Relijius, Kota Bunga dan sebagainya. Julukan-julukan ini (katanya) masih disandang setelah Tomohon berstatus Kota.

Sebagai Kota Pendidikan, itu karena Tomohon merupakan pusat pendidikan. Jaman dulu banyak yang datang dari daerah-daerah sekitar Tomohon, seperti Tondano, Sonder, Kawangkoan, Langowan, Amurang, bahkan dari luar daerah Tomohon bersekolah di Tomohon. Tak hanya itu Woloan dikenal sebagai kampung guru.

Kini status Kota Pendidikan seakan hanya pemanis saja. Kualitas pendidikan mulai tersebar merata di tanah Minahasa (raya) dan Sulawesi Utara (Sulut) pada umumnya.

Pemerintah Kota Tomohon saat ini seakan tidak ada gebrakan untuk menunjukan bahwa Kota Tomohon benar-benar layak menyandang status Kota Pendidikan.

Kota Relijius yang disandang Kota Tomohon sejak masih berstatus kecamatan, karena masyarakat benar-benar relijius dengan agamanya masing-masing, toleran dan selalu menjaga kerukunan, juga Tomohon merupakan pusat agama Kristen Protestan dengan beradanya Kantor BPMS (Badan Pekerja Majelis Sinode) GMIM (Gereja Masehi Injili di Minahasa) di Kuranga, Kelurahan Talete II, Kecamatan Tomohon Tengah.

Kota Bunga dicetuskan oleh Jefferson SM Rumajar alias Epe ketika menjabat sebagai Walikota Tomohon. Kota Bunga telah menjadi Peraturan Daerah (Perda). Kota Bunga ketika dicetuskan adalah agar masyarakat, petani dapat sejahtera. Kesejahteraan masyarakat ini dapat diraih melalui penjualan bunga dan produk-produk lainnya, serta iven ToF kini TIFF.

BACA JUGA: TIFF Antara Seremonial dan Substansial

Sayangnya di usia ke-17 Kota Tomohon ini, Kota Tomohon belum terlihat Kota Bunga. Iven TIFF sekedar ajang dengan anggaran miliaran rupiah yang masyarakatnya tidak merasakan multiplier effectnya. Infrastruktur penunjang Kota Bunga banyak yang terkesan terlantar. Contohnya besi-besi tatakan, tempat bunga di pusat kota atau yang berjejer di sepanjang trotoar jalan protokol Tomohon-Manado.

***

Kota Tomohon diusia ke-17 tahun ini banyak pekerjaan rumah (PR) yang harus dikerjakan Pemerintah Kota Tomohon siapapun kepala dan wakil kepala daerahnya, apalagi yang sekarang menjabat.

Walikota dan Wakil Walikota Tomohon bukan sekedar jabatan untuk membuka acara-acara seremonial (yang dilaksanakan perangkat daerah atau diundang oleh komunitas-komunitas tertentu).

Walikota dan Wakil Walikota Tomohon bukan jabatan untuk sekedar jalan-jalan keluar daerah (dalam negeri maupun luar negeri).

Walikota dan Wakil Walikota Tomohon bukan sekedar melakukan pencitraan, karena di pusat kota telah dibangun Menara Alfa Omega.

Ingat janji politik ketika Pilkada 2015 adalah EMAS (e-government, merubah wajah kota, akselerasi pembangunan dan smart city). Apakah sudah terealisasi?

BACA JUGA: EMAS yang Tak Berkilau

Apakah dengan pencapaian meraih Wajar Tanpa Pengecualian (WTP) atas Laporan Keuangan Pemerintah Daerah (LKDP) kemudian itu dianggap prestasi?

BACA JUGA: Presiden Sebut Laporan Keuangan WTP Bukan Prestasi

Contoh paling sederhana, saat ini banyak masyarakat Kota Tomohon berteriak karena sulit mendapatkan air bersih, pusat kota yang semrawut, rumput dipila-pila jalan yang tumbuh subur sehingga membahayakan pengguna jalan, air menggenang di sejumlah ruas jalan ketika hujan turun, juga pembayaran honor dan gaji ASN (Aparatur Sipil Negara) yang selalu terlambat. Padahal pelayanan publik selalu dikampanyekan Walikota Tomohon melalui para pembantunya.

APBD Kota Tomohon yang setiap tahun meningkat harus menjadi instrumen utama untuk melayani publik. Walikota dan Wakil Walikota Tomohon beserta ‘kabinetnya’ harus benar-benar menjadi pelayan masyarakat dalam menggunakan APBD. Ingat APBD adalah uang rakyat.

BACA JUGA: APBN dan APBD Adalah Instrumen Pelayanan Publik

APBD jangan habis untuk kegiatan seremonial pemerintah saja dan untuk tunjangan-tunjangan kinerja para pejabat yang sangat besar. Jikapun ada APBD untuk pembangunan fasilitas publik, seperti jalan, jembatan, sekolah dan lain-lain, pihak-pihak terkait terutama para pengawas harus mengawasi proyek-proyek itu dengan benar. Agar apa yang dibantun tidak cepat rusak.

BACA JUGA: Mereka Melayani Siapa?

***

Ingat, Tomohon mendapatkan status kota otonom adalah berkat perjuangan seluruh masyarakat Tomohon ketika itu, melalui panitia perjuangan/pembentukan Kota Tomohon. Pembentukan Kota Tomohon bukan sekedar dilakukan pemerintah dan mereka yang selalu mengaku pejuang, tapi oleh seluruh masyarakat Kota Tomohon. Karena tanpa restu masyarakat tentunya Kota Otonom Tomohon tak akan terealisasi. Jadi siapapun Walikota dan Wakil Walikota Tomohon harus benar-benar menjadi pelayan masyarakat (publik). Benar-benar melayani.

Masyarakat jangan lagi dibaiarkan terkotak-kotak karena imbas ketika Pilkada. Kepala daerah harus mampu menyatukan dan merangkul seluruh masyarakat, apakah memilihnya ketika Pilkada atau tidak. Selamat hari jadi ke-17 Kota Tomohon. I jajat u santi. Merdeka! ***

BACA JUGA: Catatan Akhir Tahun: Mulut Besar Melayani Rakyat

 

0 Reviews

Write a Review

Read Previous

Delapan Ucapan Selamat Tahun Baru Imlek 2020

Read Next

Mengenali Kode yang Tertera pada Ban Kendaraan

Leave a Reply